Jerman dan Kosovo Basmi Kutu Hyalomma Pembawa Virus Mematikan
Kongo (CCHF) yang mematikan, kini menyebar ke Jerman dan Eropa akibat perubahan iklim, dengan Kosovo menjadi wilayah populasi terbesar. Sejak 2009, ahli virologi Jerman Petra Emmerich dan pakar zoonosis Kosovo Kurtesh Sherifi membangun kerja sama penelitian untuk memantau penyebaran kutu dan virus, didukung pendanaan Program Biosekuriti Jerman sejak 2013. Kemitraan ini mencakup pertukaran dokter dan edukasi masyarakat, terutama petani yang rentan terinfeksi karena menangani hewan dengan tangan kosong.
Poin-Poin Utama
- Kutu Hyalomma dapat mendeteksi mangsa dari jarak hingga 200 meter.
- Kutu Hyalomma mengejar mangsanya, alih-alih menunggu di rerumputan.
- Hewan maupun manusia menjadi target gigitan kutu Hyalomma.
- Kutu Hyalomma sebelumnya banyak ditemukan di Afrika, Asia, dan Eropa Selatan.
- Perubahan iklim memungkinkan kutu Hyalomma bertahan hidup lebih jauh ke utara.
- Kutu Hyalomma telah terdeteksi di Jerman dan berbagai negara Eropa Timur.
- Kosovo memiliki populasi kutu Hyalomma dengan jumlah besar.
- Kutu Hyalomma membawa virus penyebab demam berdarah Krimea-Kongo (CCHF).
- CCHF memiliki tingkat kematian yang tinggi.
- Gejala CCHF mirip Ebola dan virus Marburg, merusak pembuluh darah serta sistem limfatik.
- Kosovo memiliki sekitar 1,6 juta penduduk.
- Pada 2005, 11 orang di Kosovo tertular CCHF dan 5 di antaranya meninggal.
- Kerja sama riset dimulai pada 2009 ketika Petra Emmerich dikirim ke Kosovo.
- Sejak 2013, kolaborasi mendapat pendanaan dari Program Biosekuriti Kementerian Luar Negeri Jerman.
- Petani Kosovo rentan terinfeksi melalui kontak darah hewan saat melepaskan kutu dengan tangan kosong.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.