Risau Menanti Kabar, Bergumul Tanpa Kepastian
Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) melumpuhkan delapan bandara dan mengganggu 2.961 penerbangan dengan 341.000 penumpang terdampak. WNI di luar negeri seperti di Malaysia dan Australia harus menanggung sendiri biaya tambahan penginapan, makanan, dan tiket reschedule tanpa pendampingan KBRI atau maskapai. Akibatnya, para penumpang dibiarkan mengurus segala sesuatunya secara mandiri dengan informasi yang minim, menimbulkan rasa kecewa dan getir.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meletus sejak Jumat (4/9/2026) malam.
- Dampak erupsi terasa dari Jawa Barat hingga Lampung.
- Tinggi kolom erupsi mencapai 50.000 kaki.
- Delapan bandara dan sejumlah maskapai tidak dapat melayani penumpang karena force majeure.
- Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi penumpang yang menanti informasi berkala.
- Data Kementerian Perhubungan pada Senin (7/9/2026) sore mencatat 2.961 penerbangan terganggu.
- Penerbangan terganggu terdiri atas 2.339 domestik dan 622 internasional.
- Jumlah penumpang terdampak sebanyak 341.000 orang.
- Gangguan berupa pembatalan, penundaan, dan pengalihan penerbangan.
- Liza Angelina seharusnya pulang dari Penang, Malaysia, Minggu (6/9/2026).
- Liza bersama Komunitas Jelajah Budaya berwisata di George Town.
- Liza menambah biaya Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per orang untuk perpanjangan tinggal.
- Yulius Aris (45) berangkat dari Sydney, Australia, Selasa (8/9/2026) pukul 14.10 waktu setempat.
- Maskapai Batik Air kerap terlambat menyampaikan informasi.
- WNI terdampak mengurus sendiri masalah tanpa dukungan Kedutaan Besar RI atau Konsulat Jenderal RI di Penang.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.