99 Persen Fraud Perbankan Berawal dari Rekayasa Sosial, Bukan Retasan Sistem
Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA Wani Sabu mengungkapkan sekitar 99 persen kasus fraud perbankan di Indonesia berawal dari social engineering atau rekayasa sosial, bukan peretasan sistem. Modus yang digunakan antara lain iming-iming voucher atau hadiah, serta pelaku yang mengaku sebagai petugas bank, customer service, kartu kredit, asuransi, atau instansi resmi lainnya dengan memanfaatkan emosi korban. Wani mengimbau masyarakat untuk tidak FOMO, tidak mengunduh aplikasi yang tidak perlu, dan selalu memeriksa ulang setiap informasi yang diterima dari pihak tak dikenal.
Poin-Poin Utama
- 99% kasus fraud perbankan Indonesia berasal dari social engineering, bukan peretasan sistem.
- Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA, Wani Sabu, mengungkap data tersebut.
- Wani Sabu juga menjabat Ketua Komite Cyber Fraud Perbanas.
- Seminar 'Now You See: Now You Aware' digelar PT Akar Inti Solusi (Akar Inti Enterprise).
- Lokasi seminar di CGV Grand Indonesia, Studio ScreenX, Jakarta Pusat.
- Seminar dilaksanakan Kamis (3/9/2026).
- Social engineering memanfaatkan emosi korban, baik rasa senang maupun cemas.
- Modus umum berupa iming-iming voucher atau undian berhadiah.
- Pelaku kerap mengaku sebagai customer service bank, kartu kredit, asuransi, atau instansi resmi lain.
- Wani mengingatkan masyarakat agar tidak FOMO dan tidak mengunduh aplikasi tidak perlu.
- Masyarakat diimbau selalu memverifikasi ulang saat dihubungi orang asing.
- Pergeseran sasaran kejahatan siber kini menyasar sisi psikologis manusia, bukan sekadar menembus teknologi.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.