Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Ekonomi Netral

Pasar Global Stagnan, Impor Batu Bara Metalurgi Indonesia Melonjak

Rabu, 9 September 2026, 06:36 WIB Sumber: Republika
Ukuran:

Di tengah perdagangan batu bara global yang stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,8 persen menjadi 639,9 juta ton pada semester I 2026, Indonesia mencatatkan peran ganda berupa penurunan ekspor batu bara namun sekaligus menjadi pendorong utama lonjakan impor batu bara metalurgi global sebesar 4,4 persen menjadi 157,3 juta ton. Kenaikan impor tersebut didorong oleh pertumbuhan kapasitas industri pengolahan nikel dan aluminium di Indonesia, serta akuisisi portofolio tambang Anglo-American di Queensland oleh perusahaan Indonesia sebagai strategi jangka panjang pengamanan rantai pasok. Kebijakan pengetatan ekspor Indonesia periode Maret-Juni 2026 turut menekan impor batu bara termal global, termasuk di Asia yang menguasai 88,6 persen volume termal dunia.

Poin-Poin Utama

  • Volume ekspor batu bara Indonesia turun signifikan pada paruh pertama 2026.
  • Perdagangan batu bara global tumbuh 0,8 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 639,9 juta ton pada semester I 2026.
  • Volume perdagangan batu bara global semester I 2026 lebih rendah dibandingkan periode sama 2024 sebesar 677,1 juta ton.
  • Batu bara termal (thermal coal) terkontraksi 0,9 persen secara tahunan.
  • Batu bara metalurgi, kokas, dan antrasit melonjak 4,4 persen menjadi 157,3 juta ton.
  • Produksi baja dunia turun 0,7 persen meskipun impor batu bara metalurgi meningkat.
  • Lonjakan impor batu bara metalurgi disebabkan oleh guncangan pasokan domestik di China, penghapusan kuota impor kokas metalurgi di India, serta pertumbuhan kapasitas industri nikel dan aluminium di Indonesia.
  • Indonesia mengakuisisi portofolio tambang Anglo-American di Queensland, Australia, melalui perusahaan berbasis di Indonesia dan terdaftar di Inggris.
  • Kebijakan pengetatan ekspor Indonesia pada Maret-Juni 2026 diiringi penurunan impor batu bara termal global sebesar 1,7 persen.
  • Kawasan Asia menguasai 88,6 persen volume termal dunia dan turun 3,6 persen.
  • Eropa mencatatkan penurunan terbesar impor termal sebesar 11,1 persen secara tahunan.
  • Eropa terdampak gangguan pasokan LNG dari Qatar namun tidak beralih ke batu bara.
  • Pemulihan tipis perdagangan batu bara global disebut koreksi marginal dari basis tahun 2025 yang lemah, bukan ekspansi pasar.
  • Sumber data berasal dari laporan 'H1 2026 Global Coal Imports' oleh Bombay Strategy.
  • Pernyataan pendiri Bombay Strategy Hozefa Merchant disampaikan pada Selasa, 8 September 2026.
Tagar Terkait
#china#india#nikel#batu bara#batu bara metalurgi#ekspor batu bara#impor batu bara#aluminium#bombay strategy#perdagangan global
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.

Buka Sumber di Republika

Warta Terkini Lainnya