Semangat Gerakan Non-Blok Tetap Relevan Mengarungi Zaman
Setelah 65 tahun, negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) menegaskan gerakan ini tetap relevan menghadapi tantangan geopolitik modern, bukan sekadar romantisme masa lalu. Indonesia, melalui Wamenlu Anis Matta di peringatan KTT I GNB di Belgrade, menekankan tiga pilar menjaga GNB: solidaritas dan perjuangan kemerdekaan termasuk untuk Palestina, kemandirian strategis di sektor pangan-teknologi-energi, serta memperjuangkan tatanan dunia yang adil dan setara. Presiden Serbia Vucic menambahkan tiga inisiatif baru termasuk Non-Aligned Digitally untuk penguatan kapasitas digital negara-negara anggota.
Poin-Poin Utama
- KTT GNB pertama digelar 1-6 September 1961 di Belgrade dengan 25 negara berkembang termasuk Indonesia di bawah Presiden Sukarno.
- Sepanjang sejarah, GNB telah melibatkan 120 negara, 18 negara pengamat, dan 10 organisasi internasional berstatus pengamat.
- Total populasi negara-negara GNB mencapai 4,3 miliar jiwa atau 57 persen dari populasi dunia.
- Indonesia menghadiri peringatan 65 tahun KTT I GNB di Belgrade, Serbia pada 30 Agustus-1 September 2026.
- Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut.
- Anis Matta menegaskan keterkaitan Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 dan Dasasila Bandung sebagai inspirasi pembentukan GNB.
- Presiden Serbia Aleksandar Vucic menyatakan situasi dunia 1961 belum terulang namun realitas geopolitik kini semakin mengingatkan pada masa itu.
- Tiga poin utama Anis Matta untuk menjaga relevansi GNB: solidaritas dan kemerdekaan termasuk untuk Palestina, kemandirian strategis di sektor pangan/teknologi/energi, dan kerja sama berbasis keadilan.
- Vucic meluncurkan tiga inisiatif baru kerja sama GNB termasuk 'Non-Aligned Digitally' untuk penguatan infrastruktur dan keamanan digital.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.