Peta Minyak Dunia Dirombak Total! Jalur Utama Lumpuh, Negara Importir Menanggung Beban Mahal
Perang di Timur Tengah menyebabkan transformasi terbesar dalam sejarah perdagangan energi global, dengan Selat Hormuz lumpuh dari sebelumnya mengalirkan hampir 20 juta barel per hari menjadi hanya 6-8 juta barel per hari, diperparah oleh deklarasi force majeure Qatar pasca-kerusakan fasilitas Ras Laffan akibat serangan balasan Iran. Kondisi ini memaksa negara-negara eksportir dan importir minyak merombak rute pengiriman secara drastis dengan biaya lebih mahal, sementara Arab Saudi memanfaatkan Pipa Timur-Barat untuk mengalihkan minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah melewati Selat Bab el-Mandeb. Namun, Stasiun Yanbu belum memiliki kapasitas dermaga memadai untuk menampung seluruh volume minyak yang biasa dikirim via Teluk Persia.
Poin-Poin Utama
- Perang di Timur Tengah memicu transformasi terbesar dalam sejarah perdagangan energi global.
- Selat Hormuz sebelumnya mengalirkan hampir 20 juta barel minyak per hari.
- Selat Hormuz kini hanya mampu menyalurkan 6 hingga 8 juta barel per hari.
- Fasilitas Ras Laffan Qatar rusak akibat serangan balasan Iran.
- Qatar mendeklarasikan force majeure sebagai eksportir gas raksasa.
- Produsen dan importir minyak merombak rute pengiriman secara drastis.
- Rute alternatif memiliki risiko biaya yang jauh lebih mahal.
- Negara-negara eksportir Teluk memanfaatkan rute alternatif darat.
- Arab Saudi menggunakan Pipa Timur-Barat untuk mengalihkan minyak.
- Minyak dialihkan langsung ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
- Selat Bab el-Mandeb menjadi rute alternatif dari Selat Hormuz.
- Stasiun Yanbu belum memiliki kapasitas dermaga yang memadai.
- Seluruh volume minyak yang biasa dikirim via Teluk Persia tidak tertampung di Yanbu.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.