Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Politik Negatif

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Rabu, 9 September 2026, 14:46 WIB Sumber: Kompas Dibaca 1 kali
Ukuran:

Radikalisasi digital sering menyamar sebagai perhatian dan kedekatan personal, sehingga literasi digital perlu diperluas menjadi literasi relasi yang mengajarkan remaja mengenali kapan kepedulian berubah menjadi ketergantungan dan isolasi. Data BNPT menunjukkan 21.199 konten intoleransi di ruang digital serta 112 anak usia 10-18 tahun teradikalisasi melalui gim dan media sosial, dengan proses yang kini bisa memendek menjadi 3-6 bulan. Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan di keluarga, sekolah, dan ruang digital melalui pengajaran literasi algoritma dan relasi secara terintegrasi, tanpa mengubah kepedulian menjadi kecurigaan terhadap anak.

Poin-Poin Utama

  • BNPT pada 13 Agustus 2026 menegaskan fase kedua RAN PE 2026-2029 menempatkan keluarga, komunitas, pendidikan, dan ruang digital sebagai benteng pencegahan dini.
  • Rencana Aksi Nasional tersebut memuat 111 target aksi dalam sembilan tema strategis.
  • Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dua pekan sebelumnya memperingatkan radikalisasi digital dapat menyamar sebagai kepedulian.
  • BNPT (2025) menemukan 21.199 konten intoleransi, radikalisme, dan terorisme di ruang digital.
  • Pada 2025, 112 anak di 26 provinsi terpapar atau teradikalisasi melalui gim daring dan media sosial.
  • Usia anak terpapar berkisar 10-18 tahun dengan rata-rata 13 tahun.
  • Durasi proses radikalisasi memendek dari 2-5 tahun menjadi 3-6 bulan melalui media sosial.
  • Penelitian Fitriyanti dan Nur (2026) dalam jurnal Harmoni melibatkan 300 siswa dari delapan madrasah di Jakarta.
  • Studi tersebut menemukan hubungan signifikan antara paparan algoritmik dan polarisasi keagamaan.
  • Siswa dengan paparan algoritmik lebih tinggi menunjukkan sikap eksklusif serta keterbukaan lebih rendah terhadap pandangan berbeda.
  • Desain penelitian bersifat korelasional dengan paparan dilaporkan sendiri oleh responden.
  • Literasi digital perlu diperluas menjadi literasi relasi untuk mengenali perubahan perhatian menjadi ketergantungan.
  • Literasi relasi mencakup deteksi isolasi, permintaan rahasia, dan kepatuhan tanpa ruang bertanya.
  • Pencegahan tidak boleh menjadi kebiasaan mencurigai anak atau remaja.
  • Benteng digital tidak cukup dibangun hanya dengan pemblokiran konten.
Tagar Terkait
#pendidikan#literasi digital#ekstremisme#radikalisasi#radikalisasi digital#literasi relasi#bnpt#ran pe#pencegahan terorisme#anak dan remaja
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.

Buka Sumber di Kompas

Warta Terkini Lainnya