Catatan Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau: Pernah akibatkan Tsunami pada Tahun 1883 dan 2018
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi muntakhir pada 5-6 September 2026 dengan fenomena lava fountain dan suara dentuman yang terdengar hingga Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Gunung api tipe A di Selat Sunda ini masih berstatus Level III (Siaga) dengan potensi bahaya aliran lava dan lontaran batu pijar. Dalam sejarahnya, Gunung Anak Krakatau pernah menyebabkan tsunami pada tahun 1883 dan 2018, kemudian memasuki fase konstruksi pertumbuhan kembali hingga 2023.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB.
- Erupsi masih terjadi hingga 6 September 2026 pukul 04.40 WIB.
- Warna merah semburan erupsi terlihat jelas secara menerus.
- Fenomena erupsi menyerupai 'lava fountain' yang menghasilkan aliran lava.
- Dentuman dan getaran dirasakan hingga wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
- Status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau Level III (Siaga).
- Ancaman bahaya saat ini berasal dari aliran lava dan lontaran batu pijar.
- Gunung Anak Krakatau adalah gunung api Tipe A di Selat Sunda.
- Gunung api Tipe A memiliki catatan letusan magmatik sejak 1600 Masehi.
- Erupsi besar tahun 1883 menyebabkan tsunami.
- Pada 22 Desember 2018, goncangan gempa memicu erupsi Anak Krakatau.
- Longsoran tubuh Anak Krakatau menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada 2018.
- Setelah 22 Desember 2018, erupsi berskala rendah berlanjut hingga 16 Desember 2023.
- Erupsi setelah 2018 menjadi fase konstruksi pertumbuhan kembali gunung api.
- Pantaua dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Tribun News.