Memadamkan Api dari Hulunya
Artikel membahas penelitian bersama Fakultas Kehutanan UGM dan UNDP yang membandingkan skenario business as usual (BAU) dengan sustainable ecosystem management (SEM) pada perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas melalui good agricultural practices, sertifikasi ISPO, dan perlindungan kawasan high conservation value dapat meningkatkan produksi tanpa perlu memperluas lahan, sekaligus menambah stok karbon dan menyerap emisi CO2. Kesimpulannya, pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak cukup hanya dengan melarang pembakaran, melainkan membutuhkan pengelolaan lahan yang rasional secara ekonomi melalui intensifikasi berkelanjutan.
Poin-Poin Utama
- Titik api di Sumatera dan Kalimantan kirimkan asap sebabkan sekolah libur dan ancaman ISPA hingga negeri tetangga.
- Banyak petugas dikerahkan, helikopter lakukan water bombing padamkan api.
- Kalimantan Barat salah satu sentra kelapa sawit penting dan hadapi risiko karhutla.
- Penelitian kolaborasi Fakultas Kehutanan UGM dan UNDP kembangkan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
- Dua skenario dibandingkan: business as usual (BAU) dan sustainable ecosystem management (SEM).
- BAU punya penerapan GAP rendah dan kepatuhan standar keberlanjutan terbatas.
- SEM gabungkan peningkatan produktivitas via GAP, sertifikasi ISPO, dan perlindungan kawasan HCV.
- Siklus produksi 25 tahun, produktivitas kumulatif naik dari sekitar 285 ton jadi 487 ton per hektar.
- NPV per hektar naik dari sekitar Rp 367 juta jadi Rp 658 juta.
- Tingkat regional, SEM hasilkan tambahan nilai ekonomi Rp 256 juta–Rp 478 juta per hektar dan 54.000 lapangan kerja.
- Pesan utama: hasilkan lebih banyak tanpa perluas lahan.
- Penelitian tidak simpulkan perkebunan sawit penyebab karhutla di Kalimantan dan Sumatera.
- Karhutla kompleks terkait kekeringan, gambut, praktik lahan, land clearing, tata kelola, pengawasan.
- Inti intensifikasi berkelanjutan: lebih banyak nilai ekonomi dari lahan ada, jaga kawasan ekologis.
- Skenario SEM estimasi tambah stok karbon sekitar 17 juta ton per tahun, setara sekitar 62,56 juta ton CO2.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.