Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Nasional Netral

Pembelajaran Lapangan: Mengubah Inspirasi Menjadi Inovasi Desa Wisata

Sabtu, 12 September 2026, 18:05 WIB Sumber: Sindonews
Ukuran:

Keindahan alam dan potensi wisata tidak cukup untuk mengembangkan desa wisata tanpa tata kelola baik, pelayanan profesional, dan keterlibatan masyarakat. Pembelajaran lapangan melalui experiential learning diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan, karena banyak pengetahuan pengelolaan wisata bersifat tacit knowledge yang sulit dipahami hanya dari modul. Agar efektif, pembelajaran harus dibangun sebagai ekosistem dengan arahan terstruktur, refleksi, pendampingan, dan keterlibatan berkelanjutan, serta memilih lokasi pembelajaran yang relevan dengan potensi desa peserta.

Poin-Poin Utama

  • Keindahan alam saja tidak otomatis membuat desa wisata berkembang.
  • Modal penting desa wisata meliputi hutan bambu, persawahan, udara pegunungan, kesenian tradisional, kuliner lokal, dan keramahan masyarakat.
  • Pengelola desa wisata perlu memiliki tata kelola baik, pelayanan profesional, produk kreatif, dan keterlibatan masyarakat.
  • Banyak pengelola desa wisata telah mengikuti pelatihan pelayanan prima, pemasaran digital, konservasi, dan pengembangan produk.
  • Pengetahuan dari ruangan tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
  • Pembelajaran berbasis pengalaman menjembatani kesenjangan antara mengetahui dan melakukan.
  • Pembelajaran lapangan memungkinkan peserta melihat, merasakan, bertanya, membandingkan, merefleksikan, dan mendiskusikan secara langsung.
  • Riset Zhao dan Liu (2026) menunjukkan experiential learning berkelanjutan ditopang arahan terstruktur, interaksi, refleksi, pendampingan, dan keterlibatan berkelanjutan.
  • Satu kali kunjungan dapat menimbulkan kekaguman tetapi belum tentu menghasilkan perubahan.
  • Pengetahuan tacit seperti menghadapi keluhan wisatawan dan membangun kedisiplinan warga sulit disampaikan melalui modul.
  • Riset Zhang et al. (2024) menunjukkan pengalaman sebelumnya, kesesuaian pengetahuan, teknologi, dan hubungan antarpelaku memengaruhi keberhasilan transfer pengetahuan.
  • Pemilihan lokasi pembelajaran harus sesuai dengan potensi dan persoalan desa peserta.
  • Desa berhutan bambu memperoleh pembelajaran lebih relevan dari destinasi yang berhasil mengembangkan konservasi dan kerajinan bambu.
  • Pang et al. (2024) memperkenalkan konsep communities of learning and practice dalam pengembangan pariwisata.
  • Inspirasi baru bermakna quando diolah melalui diskusi, diterjemahkan menjadi rencana, diuji dalam tindakan, dan dievaluasi.
Tagar Terkait
#pariwisata#pembelajaran lapangan#desa wisata#innovasi#experiential learning#pemberdayaan desa#desa belik#desa penglipuran
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.

Buka Sumber di Sindonews

Warta Terkini Lainnya