Teleskop NASA Swift Menuju Bumi Usai Misi Penyelamatan Gagal
Teleskop ruang angkasa Swift milik NASA diperkirakan akan kembali memasuki atmosfer Bumi dalam waktu dekat setelah upaya penyelamatan oleh perusahaan swasta Katalyst Space Technologies gagal dilakukan karena wahana robotik LINK mengalami masalah pengendalian posisi setelah peluncuran pada Juli 2026. Selama lebih dari dua dekade, Swift digunakan untuk mengamati semburan sinar gamma dan fenomena kosmik lainnya menggunakan tiga instrumennya. Sebagian besar bagian teleskop akan terbakar saat memasuki atmosfer, namun beberapa komponen seperti teleskop sinar-X, teleskop optik, lensa optik, dan tangki titanium berpotensi bertahan dan mencapai permukaan Bumi dengan risiko sangat kecil terhadap manusia.
Poin-Poin Utama
- Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA diluncurkan November 2004.
- Swift mengamati semburan sinar gamma selama lebih dari dua dekade.
- Observatorium memiliki tiga instrumen teleskop.
- Orbit Swift menurun akibat aktivitas Matahari yang meningkatkan hambatan atmosfer.
- NASA membuka kesempatan perusahaan September 2025 untuk menyelamatkan Swift.
- Katalyst Space Technologies mendapat kontrak USD 30 juta.
- Katalyst mengembangkan wahana robotik bernama LINK.
- LINK diluncurkan 3 Juli 2026.
- LINK mengalami masalah pengendalian posisi setelah peluncuran.
- Upaya penyelamatan Swift dibatalkan.
- Swift diperkirakan memasuki atmosfer Bumi tidak lebih awal dari Oktober.
- Massa kering Swift sekitar 613 kilogram.
- Instrumen utama meliputi Burst Alert Telescope, X-Ray Telescope, dan Ultraviolet/Optical Telescope.
- Komponen seperti teleskop sinar-X, lensa optik, dan tangki titanium berpotensi bertahan saat masuk atmosfer.
- Orbit Swift memiliki kemiringan sekitar 21 derajat, potensi masuk kembali di wilayah 21°LU hingga 21°LS.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.