Sebelum Galileo, Ada Jejak Ibnu Al-Haytham dalam Penemuan Kacamata atau Teleskop Diakui UNESCO
Haytham adalah ilmuwan Muslim yang lahir di Basra dan diakui UNESCO sebagai pelopor optik modern serta tokoh penting dalam perkembangan metode eksperimental dalam sains. Karya terbesarnya adalah Kitab al-Manazir yang terdiri atas tujuh jilid, membahas cahaya, penglihatan, refleksi, refraksi, dan cara manusia melihat objek. Ia menggunakan konsep ruang gelap berlubang kecil untuk menguji sifat cahaya melalui pengamatan dan eksperimen, tidak sekadar menerima pandangan ilmuwan sebelumnya.
Poin-Poin Utama
- Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haytham adalah ilmuwan Muslim yang lahir di Basra sekitar seribu tahun lalu.
- UNESCO mengakui Ibnu al-Haytham sebagai salah satu pelopor optik modern.
- UNESCO juga menganggapnya sebagai tokoh penting dalam perkembangan metode eksperimental dalam sains.
- Ibnu al-Haytham menguji gagasannya melalui pengamatan dan eksperimen.
- Ia tidak menerima begitu saja pandangan para ilmuwan sebelumnya.
- Kitab al-Manazir atau Book of Optics merupakan salah satu karya terbesarnya.
- Kitab al-Manazir terdiri atas tujuh jilid.
- Kitab tersebut membahas cahaya, penglihatan, refleksi, dan refraksi.
- Ibnu al-Haytham menggunakan konsep camera obscura dalam penelitiannya.
- Camera obscura adalah ruang gelap yang memiliki lubang kecil.
- Cahaya dari luar masuk melalui lubang kecil dan membentuk citra pada permukaan di dalam.
- Citra yang terbentuk muncul dalam posisi terbalik.
- Eksperimen camera obscura menjadi bagian penting dari kajiannya tentang sifat cahaya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.