Pakar Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Imbau Pakai Masker N95 atau KN95
Pakar Dr. Daryono mengingatkan bahaya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang memiliki partikel tajam berupa pecahan kaca silika dan mengandung senyawa asam agresif seperti asam sulfat serta asam klorida, sehingga dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata, gangguan kulit, hingga silikosis pada paparan jangka panjang. Masyarakan di area terdampak diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker N95 atau KN95 serta kacamata pelindung untuk meminimalkan dampak kesehatan.
Poin-Poin Utama
- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memiliki karakteristik fisik tajam dan kandungan senyawa kimia korosif.
- Pakar kebencanaan Dr. Daryono memperingatkan bahaya sebaran abu vulkanik ke wilayah Banten, Lampung, Jakarta, Depok, dan Bogor.
- Abu gunung api merupakan pecahan kaca silika dan fragmen batuan berukuran di bawah 2 milimeter.
- Partikel halus abu vulkanik dapat menembus sistem penyaringan alami hidung dan mencapai alveolus paru-paru.
- Abu vulkanik diselimuti asam sulfat dan asam klorida yang bersifat agresif.
- Paparan jangka pendek menyebabkan ISPA, batuk kering, iritasi mata, dan sesak napas akut.
- Paparan jangka panjang berisiko menyebabkan penyakit paru obstruktif menahun dan silikosis.
- Endapan silika bebas di paru-paru menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen.
- Gunung Anak Krakatau berstatus Level III (Siaga).
- Rekomendasi jarak aman adalah radius 3 km dari pusat kawah.
- Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan hingga intensitas abu mereda.
- Masker N95 atau KN95 menyaring partikel berukuran 0,3 mikron dengan efektivitas minimal 95 persen.
- Kacamata pelindung (goggles) direkomendasikan untuk menghindari iritasi mata.
- Kelompok rentan seperti penderita asma atau alergi saluran pernapasan berisiko lebih tinggi.
- Abu vulkanik bereaksi secara agresif saat bersentuhan dengan membran jaringan tubuh yang lembap.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Tribun News.