Mengolah Air Bersih dengan Pasir Silika
Pasir silika lokal Sulawesi Tenggara dikembangkan sebagai media filter air untuk mereduksi kandungan besi dan mangan hingga 97,02 persen dan 98,84 persen. Guru Besar Universitas Halu Oleo La Aba bersama tim meneliti dan mengembangkan sistem filtrasi menggunakan pasir silika sejak 2015 dengan proses aktivasi fisika menggunakan microwave dan aktivasi kimia menggunakan kalium permanganat untuk meningkatkan karakteristik mineral dan porositas pasir lokal.
Poin-Poin Utama
- Pasir silika lokal Sulawesi Tenggara mereduksi kandungan besi hingga 97,02 persen.
- Pasir silika lokal Sulawesi Tenggara mereduksi kandungan mangan hingga 98,84 persen.
- Kualitas air ditentukan oleh parameter fisik, kimia, biologis, dan radioaktif.
- Secara fisik, kualitas air berkaitan dengan warna, bau, rasa, kekeruhan, dan suhu.
- Pencemaran air dapat berasal dari logam berat seperti besi dan mangan.
- Air di beberapa desa Sulawesi Tenggara tidak layak konsumsi karena berwarna kuning kecoklatan, keruh berlumpur, dan berbau tidak sedap.
- Kondisi geologis Sulawesi Tenggara didominasi endapan nikel laterit.
- Lapisan topsoil Sulawesi Tenggara mengandung besi dalam bentuk hematit dengan konsentrasi lebih dari 40 persen.
- La Aba adalah Guru Besar Bidang Fisika Terapan Universitas Halu Oleo.
- Penelitian tentang pengolahan air bersih dimulai sejak 2015.
- Peningkatan kualitas pasir dilakukan melalui aktivasi fisika menggunakan microwave.
- Peningkatan kualitas pasir juga dilakukan melalui aktivasi kimia menggunakan kalium permanganat.
- Inovasi diarahkan untuk memperbaiki karakteristik mineral dan porositas pasir.
- Konsentrasi mineral silika dan porositas pasir meningkat seiring kenaikan temperatur aktivasi microwave.
- Penelitian berfokus pada pengembangan pasir silika lokal sebagai media filter air sumur gali.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.