IHSG Loyo ke Level 6.100, Kebijakan Harga Minimum Rp 1 Dinilai Tak Banyak Berpengaruh
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 94,22 poin atau 1,51 persen ke level 6.147 pada Senin (28/9/2026), melampaui level support psikologisnya di 6.200, karena kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah Brent di atas 106 dolar AS per barel, serta pelemahan rupiah ke level Rp 17.978 per dolar AS. Kebijakan batas minimum harga saham yang diturunkan dari Rp 50 menjadi Rp 1 oleh Bursa Efek Indonesia dinilai tidak banyak berpengaruh terhadap pelemahan indeks, meskipun penerapan kebijakan tersebut memicu tekanan jual pada sejumlah saham berharga rendah seperti GOTO dan DADA yang langsung anjlok 14 persen.
Poin-Poin Utama
- IHSG ditutup turun 94,22 poin atau 1,51% ke level 6.147 pada 28 September 2026.
- Level support psikologis IHSG di 6.200 berhasil ditembus.
- Sektor teknologi, barang baku, dan barang konsumen siklikal memimpin penurunan pasar.
- Sektor energi dan transportasi mencatatkan kenaikan rata-rata harga harian.
- Harga minyak mentah Brent merangkak naik melebihi US$106 per barel.
- Lonjakan harga energi dipicu oleh penolakan Trump terhadap proposal Iran terkait Selat Hormuz.
- Rupiah melemah 0,42% ke level Rp 17.978 per dolar AS.
- IHSG diperkirakan akan menguji level support berikutnya di rentang 6.000-6.100.
- BEI menurunkan batas minimum harga saham menjadi Rp 1 dari sebelumnya Rp 50.
- Saham GOTO anjlok 14% ke harga Rp 43 saat pembukaan perdagangan Senin.
- Saham GOTO terkena auto rejection bawah akibat langsung mentok di batas penurunan harga.
- Kapitalisasi pasar saham GOTO tercatat Rp 52,9 triliun.
- Saham DADA melemah 14% ke harga Rp 43 per saham dari harga Rp 50.
- Dirut BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kebijakan harga minimum Rp 1 seharusnya tidak berpengaruh negatif terhadap pasar.
- Saham yang sensitif terhadap kebijakan baru adalah saham yang selama ini tertahan di harga Rp 50 di papan pemantauan khusus.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.