Beranda Senin, 28 September 2026

!online

Kesehatan Negatif

Sering Tidur Lewat Tengah Malam? Awas, Risiko Gangguan Kesehatan Kronis Mengancam

Senin, 28 September 2026, 23:08 WIB Sumber: Media Indonesia
Ukuran:

Tidur melewati tengah malam dapat mengganggu ritme sirkadian dan mengurangi kualitas tidur gelombang lambat, sehingga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan kronis seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi. Kebiasaan ini juga mengacaukan siklus hormon melatonin dan kortisol yang berperan vital dalam pengaturan tidur dan kesiapan fisik tubuh. Untuk menjaga kesehatan, para ahli menyarankan konsistensi jadwal tidur, paparan sinar matahari di pagi hari, pengurangan cahaya buatan di malam hari, serta menghindari kafein setelah pukul 15.00.

Poin-Poin Utama

  • Tidur melewati pukul 12 malam dapat mengganggu ritme sirkadian dan tahapan tidur krusial bagi tubuh.
  • Ritme sirkadian adalah jam internal tubuh yang bekerja dalam siklus 24 jam untuk mengatur rasa terjaga dan kantuk.
  • Ritme sirkadian mengontrol pelepasan hormon, metabolisme, fungsi kekebalan tubuh, serta proses perbaikan sel.
  • Dua sinyal terkuat yang menjaga ritme sirkadian adalah paparan cahaya dan kegelapan alami.
  • Ketidaksesuaian sirkadian secara kronis dapat meningkatkan risiko berbagai kondisi kesehatan jangka panjang.
  • Tidur pada jam tidak normal meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi.
  • Tidur lewat tengah malam dapat mengacaukan siklus hormon melatonin dan kortisol.
  • Melatonin berfungsi memberi sinyal kantuk kepada tubuh dan mencapai puncaknya pada malam hari.
  • Kortisol sebagai hormon peringatan alami tubuh meningkat di pagi hari untuk mempersiapkan fisik bangun.
  • Tidur setelah tengah malam di bawah paparan cahaya buatan mengurangi kadar melatonin.
  • Tidur terlalu larut memangkas durasi tidur gelombang lambat yang umumnya terjadi pada paruh pertama malam.
  • Kurang tidur nyenyak secara konsisten menyebabkan seseorang tetap merasa lelah saat bangun tidur.
  • Defisit tidur nyenyak dalam jangka panjang dapat memicu gangguan fungsi kognitif dan pemulihan fisik.
  • Untuk menjaga kualitas tidur, disarankan menjaga konsistensi jadwal tidur dan mengurangi paparan cahaya terang di malam hari.
  • Jika gangguan ritme sirkadian tetap terjadi, disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis tidur.
Tagar Terkait
#tidur#sirkadian#gangguan tidur#kesehatan kronis#melatonin
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya