Kampung Lio Pilih Pilah Sampah Ketimbang Buang pada Tempatnya
Kota Depok menghadapi krisis pengelolaan sampah karena TPA Cipayung sudah melampaui kapasitas hingga dua kali lipat dari 1,3 juta meter kubik, sehingga gunung sampah berisiko longsor ke Sungai Pesanggrahan. Warga Kampung Lio belum terbiasa pemilahan sampah dari rumah tangga karena ketiadaan bank sampah dan tong pemilahan di lingkungan mereka. Sosialisasi melalui Gerakan Kampung Lio Bebas Stunting Berbasis Sanitasi Total Berbasis Masyarakat memperkenalkan pemilahan sampah dan pembuatan ecoenzyme sebagai upaya mitigasi bencana serta gaya hidup berkelanjutan.
Poin-Poin Utama
- Kota Depok, Jawa Barat menghadapi krisis pengelolaan sampah.
- Tempat Pemrosesan Akhir Cipayung sudah dalam kondisi kritis.
- Puluhan warga dari empat RW di Kampung Lio mengaku belum pemilah sampah.
- Warga tidak pemilah sampah karena tidak tersedia tong sampah di tempat tinggal.
- Bank sampah belum tersedia di Kampung Lio.
- Timbunan sampah menyebabkan saluran air tersumbat dan banjir.
- Gerakan pemilahan sampah diinisiasi Program Studi Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia.
- Gerakan ini bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok.
- Ella (48), warga Kampung Lio, belum pemilah sampah karena tidak ada bank sampah.
- Sampah dari lingkungan Ella diangkut ke bank sampah di Kelurahan Depok Jaya.
- TPA Cipayung ditutup sementara awal tahun 2026 untuk perbaikan.
- Kapasitas TPA Cipayung mencapai 1,3 juta meter kubik.
- Volume sampah di TPA Cipayung lebih dari dua kali lipat kapasitas tampung.
- Gunung sampah di TPA Cipayung bisa longsor ke Sungai Pesanggrahan.
- Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok mencatat sampah harian hingga 1.300 ton.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.