Indonesia Kekurangan Pasokan Plasma Darah
Indonesia menghadapi kekurangan pasokan plasma darah untuk memenuhi kebutuhan pasien hemofilia dan imunodefisiensi primer, dengan kebutuhan nasional sekitar 600.000 liter per tahun namun kemampuan pengumpulan hanya mencapai 350.000 liter. Kesadaran masyarakat untuk donor plasma secara rutin serta keterbatasan tenaga medis dan fasilitas laboratorium masih menjadi tantangan utama. Kementerian Kesehatan bersama PMI dan berbagai pihak tengah mempersiapkan regulasi dan pengembangan layanan donor plasma aferesis untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Poin-Poin Utama
- Ribuan penderita hemofilia dan imunodefisiensi primer di Indonesia membutuhkan obat derivat plasma.
- Indonesia membutuhkan sekitar 600.000 liter plasma per tahun.
- Palang Merah Indonesia mengumpulkan sekitar 5 juta kantong darah setiap tahun.
- Hanya 10-20 persen dari kantong darah tersebut berupa plasma.
- Plasma yang dapat dihimpun paling banyak sekitar 350.000 liter per tahun.
- Kebutuhan nasional plasma masih jauh di bawah ketersediaan yang ada.
- Satu pasien imunodefisiensi primer membutuhkan plasma setara 130 kali donasi per tahun.
- Pasien membutuhkan 0,4 gram imunoglobulin per kilogram berat badan per terapi.
- Pasien imunodefisiensi primer saat ini banyak yang masih underdose.
- Keterbatasan sumber daya menyebabkan kesulitan dalam pengadaan produk darah medicamentosa plasma.
- Tenaga medis kompeten di bidang hematologi-onkologi masih terbatas.
- Fasilitas laboratorium dan rumah sakit rujukan untuk hemofilia masih terbatas.
- Teknologi aferesis memungkinkan pengambilan plasma secara otomatis dari pendonor.
- RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta telah melayani donor plasma.
- Kementerian Kesehatan bersama pihak terkait tengah menyiapkan regulasi bank plasma.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.