Mengapa Tiongkok Enggan Disebut Negara Maju meski Ekonomi Melesat
Tiongkok hampir menembus kategori negara berpendapatan tinggi dengan GNI per kapita US$14.230, namun Beijing justru enggan menerima klasifikasi tersebut karena status negara berkembang memberikan keuntungan diplomatik dan ekonomi, termasuk menghindari kewajiban kontribusi pada dana iklim global. Tiongkok secara strategis memosisikan diri sebagai pemimpin Global South dan akan mempertahankan identitas tersebut hingga target PDB per kapita di atas US$20.000 tercapai pada 2035.
Poin-Poin Utama
- GNI per kapita Tiongkok tercatat US$14.230 menurut data Bank Dunia tahun 2025.
- Ambang batas negara berpendapatan tinggi Bank Dunia berada di angka US$14.375.
- Tiongkok diperkirakan menembus kategori berpendapatan tinggi pada tahun 2026.
- GNI per kapita Tiongkok perlu tumbuh sebesar 2,3% untuk melewati ambang batas.
- Xi Jinping menegaskan Tiongkok akan selalu menjadi anggota Global South.
- GNI per kapita Amerika Serikat mencapai US$88.810 tahun lalu.
- Seperlima penduduk termiskin Tiongkok hidup dengan pendapatan kurang dari US$120 per bulan.
- Pinjaman Bank Dunia ke Tiongkok merosot dari US$2,4 miliar pada 2017 menjadi US$750 juta pada 2025.
- Bank Dunia akan menghentikan pinjaman secara bertahap kepada Tiongkok pada tahun 2031.
- Tiongkok menetapkan target PDB per kapita di atas US$20.000 pada tahun 2035.
- IMF mengklasifikasikan Tiongkok sebagai ekonomi pasar berkembang.
- PBB masih mengkategorikan Tiongkok sebagai negara berkembang.
- WTO mengizinkan setiap negara menentukan statusnya sendiri.
- Alicia García-Herrero menyatakan Tiongkok akan berusaha hindari klasifikasi ekonomi maju.
- Kota-kota pesisir Tiongkok seperti Shanghai dan Shenzhen memiliki standar kemakmuran setara ibu kota kaya Asia.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.