Gerindra Respons Hasil Survei Evaluasi 2 Tahun Prabowo
Juru bicara Partai Gerbera Sugiat Santoso menanggapi hasil survei Celios terkait evaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo dengan menyebut tuduhan dalam survei tersebut tidak disertai bukti dan mengabaikan fakta bahwa demokrasi tetap berjalan terbuka, di mana kritik konstruktif diterima. Sugiat menegaskan bahwa penyesuaian kebijakan fiskal dan ekonomi dilakukan semata untuk menyelamatkan fondasi keuangan jangka panjang negara, bukan untuk mendramatisasi transisi ekonomi. Ia juga menilai perubahan indikator makroekonomi secara drastis seperti pajak kekayaan 1-2 persen bagi super kaya berisiko memicu pelarian modal dan mematikan gairah investasi.
Poin-Poin Utama
- Juru bicara Partai Gerakan Indonesia Raya Sugiat Santoso menanggapi hasil survei Celios mengenai evaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo.
- Survei dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (Celios).
- Sugiat menyebut hasil survei berisi tuduhan yang tidak disertai bukti.
- Sugiat menyatakan demokrasi di era Prabowo-Gibran tetap berjalan terbuka.
- Sugiat menilai kritik konstruktif diterima oleh pemerintah.
- Sugiat menyatakan jika pemerintahan otoriter, laporan Celios tidak akan beredar di ruang publik.
- Sugiat menyebut klaim 75% responden merasa stres sebagai klaim berlebihan.
- Perubahan kebijakan fiskal dilakukan untuk menyelamatkan fondasi keuangan jangka panjang negara.
- Perubahan posisi menteri merupakan hak prerogatif kepala negara.
- Penataan ulang pejabat didasarkan pada kebutuhan mempercepat target pembangunan nasional.
- Sektor pertahanan dan kemandirian alutsista diletakkan sebagai fondasi utama di bawah visi Prabowo.
- Laporan CELIOS merekomendasikan happiness index dan planetary boundary sebagai pengganti indikator ekonomi konvensional.
- Sugiat menilai tuntutan perubahan indikator secara drastis tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
- Laporan CELIOS menuntut pajak kekayaan 1-2% bagi orang super kaya.
- Pajak kekayaan tersebut diasumsikan bisa menambah penerimaan negara hingga Rp142,2 triliun.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.