Beranda Kamis, 15 Oktober 2026

!online

Internasional Negatif

72 Purnawirawan Militer AS Desak Trump Batalkan Siaran Langsung Hukuman Mati

Kamis, 15 Oktober 2026, 12:08 WIB Sumber: Media Indonesia Dibaca 9 kali
Ukuran:

two pensiunan jenderal dan laksamana militer Amerika Serikat mendesak pembatalan rencana penayangan langsung eksekusi mati Nidal Hasan, mantan psikiater Angkatan Darat yang menembak mati 13 prajurit tanpa senjata di pangkalan Fort Hood. Para pensiunan militer tersebut tidak menolak hukuman mati itu sendiri, tetapi menilai penayangan secara publik melanggar perlindungan Konstitusi terhadap hukuman yang kejam dan tidak biasa, serta akan mencoreng kehormatan militer dan berpotensi menjadikan Hasan sebagai martir. Rencana ini mendapat kritik tajam dari politisi lintas partai dan pemimpin agama, namun Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan dukungannya, dengan echopediaCBS News melaporkan sejumlah pejabat pemerintah kini mulai menentang ide tersebut.

Poin-Poin Utama

  • Lima belas purnawirawan militer AS terdiri dari 72 orang yang meminta pembatalan penayangan langsung eksekusi mati.
  • Pentagon merencanakan penayangan langsung eksekusi Nidal Hasan pada 3 Desember.
  • Hasan adalah mantan psikiater Angkatan Darat yang menembak mati 13 prajurit AS tanpa senjata di Fort Hood.
  • Insiden Fort Hood tercatat sebagai serangan non-tempur paling mematikan di pangkalan militer AS.
  • Presiden Trump menyatakan sangat setuju dengan rencana penayangan langsung tersebut.
  • Sejumlah pejabat pemerintah kini mulai menentang rencana penayangan langsung.
  • Trump belum mengambil keputusan akhir soal penayangan langsung.
  • Surat terbuka ditandatangani oleh 45 jenderal, 12 laksamana, dan beberapa mantan hakim agung militer.
  • Purnawirawan tersebut tidak menolak hukuman mati terhadap Hasan, melainkan menolak penayangan secara publik.
  • Mereka berpendapat penayangan langsung melanggar perlindungan Konstitusi AS terhadap hukuman kejam dan tidak biasa.
  • Di antara penandatangan terdapat Purnawirawan Mayor Jenderal Tony Taguba dan Purnawirawan Kolonel Moe Davis.
  • Hasan mengakui melakukan penembakan karena percaya tindakannya melindungi umat Muslim dan Taliban di Afghanistan.
  • Hasan tertembak saat melakukan aksinya dan kini menggunakan kursi roda.
  • Trump telah menandatangani persetujuan pelaksanaan eksekusi mati terhadap Hasan.
  • Jika direalisasikan, penayangan langsung ini akan menjadi eksekusi mati publik pertama di AS dalam hampir satu abad.
Tagar Terkait
#donald trump#hukuman mati#fort hood#nidal hasan#militer as#eksekusi
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya