Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Tekno Netral

Tak Perlu Tusuk Jari, Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Deteksi Prediabetes dari Air Liur

Senin, 7 September 2026, 00:40 WIB Sumber: Media Indonesia Dibaca 2 kali
Ukuran:

Empat mahasiswa UGM mengembangkan Glicovia, alat skrining prediabetes berbasis air liur yang menggabungkan sensor elektrokimia, AI (Support Vector Machine), dan IoT untuk mendeteksi glukosa, fruktosamin, serta pH saliva tanpa pengambilan darah. Inovasi ini dilatarbelakangi tingginya kasus diabetes dan prediabetes di Indonesia yang sering tanpa gejala, sehingga deteksi dini menjadi krusial untuk mencegah diabetes melitus tipe 2. Pengembangan perangkat telah mencapai sekitar 70 persen, dengan tahap berikutnya berupa validasi menggunakan sampel saliva asli untuk menguji akurasi dan keandalan sebelum dapat digunakan sebagai alat diagnosis.

Poin-Poin Utama

  • Prediabetes sering berkembang tanpa gejala sehingga penderitanya tidak menyadari kondisi berisiko tinggi tersebut.
  • Empat mahasiswa UGM mengembangkan Glicovia, perangkat skrining prediabetes berbasis air liur.
  • Tim pengembang terdiri atas Alya Ramadhani, Naefi Luthfia Zahra, Emmily Martha Renaunia (FKG UGM), dan Hendra Kurnia Maliqi (FT UGM).
  • Pembimbing tim adalah Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K).
  • Glicovia memadukan sensor elektrokimia, AI, dan IoT.
  • Sensor mengukur glukosa, fruktosamin saliva, dan tingkat keasaman (pH).
  • Data diproses menggunakan model AI berbasis Support Vector Machine (SVM).
  • Hasil pemeriksaan dapat diakses melalui aplikasi atau platform digital via integrasi IoT.
  • Sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia usia 20–79 tahun hidup dengan diabetes pada 2024.
  • Sekitar 29,8 juta penduduk Indonesia berada dalam kondisi prediabetes atau impaired glucose tolerance.
  • Prediabetes adalah fase ketika kadar glukosa darah di atas normal namun belum memenuhi kriteria diabetes.
  • Pengguna cukup menempatkan air liur pada sensor tanpa pengambilan sampel darah.
  • Pengembangan Glicovia saat ini mencapai sekitar 70 persen.
  • Tahap berikutnya adalah validasi menggunakan sampel saliva asli untuk menguji akurasi dan keandalan.
  • Konsep green diagnostics diterapkan melalui penggunaan saliva untuk mengurangi bahan habis pakai.
Tagar Terkait
#kecerdasan buatan#mahasiswa ugm#prediabetes#glicovia#iot#skrining kesehatan#saliva#diabetes melitus
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya