China Shock 2.0: Mesin Industri China Tak Bisa Berhenti
China menghadapi paradoks industri besar: kapasitas produksi raksasa, konsumsi domestik lemah, sehingga mengandalkan ekspor. Surplus perdagangan China melonjak lebih dari 20 persen pada awal 2026 sementara pertumbuhan PDB dunia hanya 3,1 persen, memicu perlawanan tarif dari AS dan Uni Eropa. Menurut Michael Froman, mesin industri China tidak bisa berhenti atau melambat karena harus menopang lapangan kerja dan stabilitas, namun dunia semakin enggan menyerap kelebihan produksi tersebut.
Poin-Poin Utama
- Barang murah China membanjiri pasar global akibat kapasitas produksi besar dan lemahnya konsumsi domestik.
- Ketergantungan perusahaan China pada pasar luar negeri meningkat ketika daya serap dunia mendekati titik kritis.
- IMF memperkirakan pertumbuhan PDB global sekitar 3,1 persen pada 2026.
- Surplus perdagangan China melonjak lebih dari 20 persen pada awal 2026.
- China membukukan surplus perdagangan sekitar 1,2 triliun dolar AS pada 2025, terbesar sepanjang sejarah.
- Surplus perdagangan China tumbuh sekitar tiga kali lebih cepat daripada perdagangan barang global.
- Amerika Serikat menaikkan tarif terhadap berbagai barang asal China.
- Tarif menjadi instrumen utama agenda perdagangan "Liberation Day" pemerintahan Trump.
- Uni Eropa memperkuat instrumen perlindungan perdagangan terhadap produk China.
- Perusahaan China dapat menjual barang sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan pesaing di negara lain.
- Keunggulan biaya China didukung nilai tukar rendah, subsidi negara, dan kebijakan industri Beijing.
- Produksi besar-besaran menimbulkan kelebihan kapasitas dan perang harga di pasar domestik China.
- Hampir sepertiga perusahaan industri China beroperasi dalam kondisi merugi.
- China harus mempertahankan produksi untuk menopang industri, tenaga kerja, investasi, dan stabilitas ekonomi.
- Proteksionisme yang meluas dapat menutup pasar ekspor utama bagi produk China.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.