Erupsi Anak Krakatau Berlanjut, Potensi Tsunami Dinilai Sangat Kecil
Rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan proses alami untuk membangun kembali tubuh gunung yang hancur akibat longsoran besar pada Desember 2018. Pakar gempa Daryono menilai potensi tsunami destruktif sangat kecil karena volume dan ketinggian kerucut gunung saat ini masih jauh lebih rendah dibanding sebelum longsoran 2018. Masyarakat pesisir Selat Sunda diimbau tetap tenang, mematuhi rekomendasi radius aman PVMBG, serta menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik.
Poin-Poin Utama
- Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus berlanjut.
- Erupsi merupakan proses alami gunung api untuk membangun kembali tubuh gunung yang hancur.
- Longsoran besar atau flank collapse pada Anak Krakatau terjadi pada Desember 2018.
- Pakar gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyampaikan potensi tsunami dinilai sangat kecil.
- Volume fisik dan ketinggian kerucut Anak Krakatau saat ini jauh lebih rendah dibanding sebelum 2018.
- Morfologi Anak Krakatau saat ini belum membentuk kerucut yang setinggi dan seterjal seperti sebelum longsoran 2018.
- Potensi material tubuh gunung longsor dalam volume besar ke laut dan memicu tsunami destruktif dinilai sangat kecil.
- Daryono mengimbau masyarakat pesisir Selat Sunda untuk tidak panik merespons aktivitas erupsi.
- Masyarakat diminta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
- Masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi zona bahaya atau radius aman yang ditetapkan PVMBG.
- Masyarakat di wilayah sebaran abu vulkanik diminta menggunakan masker sebagai alat pelindung diri.
- Daryono menegaskan erupsi bagian dari dinamika alam gunung api.
- Masyarakat diminta bersabar dan mengikuti perkembangan informasi resmi.
- Pernyataan Daryono disampaikan kepada Republika pada Senin (7/9/2026).
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.