Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Berita Netral

Menatap Bayang-Bayang Krakatau: Kala Lidah Api tak Surutkan Langkah Warga Sebesi

Selasa, 8 September 2026, 19:28 WIB Sumber: Media Indonesia Dibaca 2 kali
Ukuran:

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September sempat membuat warga Pulau Sebesi cemas karena mengingatkan pada tragedi tsunami Selat Sunda 2018, dengan material abu vulkanik yang menyebar ke pemukiman dan langit memerah di malam hari. PMI menyalurkan masker pada hari pertama kejadian, sementara aktivitas harian warga tetap berjalan normal meskipun kewaspadaan diperketat saat malam. Pada pantauan 7 September, Syahbudin mengonfirmasi gunung sudah lebih tenang tanpa hujan abu maupun pancaran cahaya merah, meski warga tetap mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas vulkanik secara mendadak.

Poin-Poin Utama

  • Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang memicu kekhawatiran warga Pulau Sebesi, Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.
  • Erupsi membangkitkan ingatan warga atas tragedi tsunami Selat Sunda tahun 2018.
  • Warga menyadari kembalinya erupsi sejak 4 September 2025.
  • Syahbudin, warga Desa Tejang, memantau kondisi dari titik paling ujung Pulau Sebesi pada Senin (7/9) malam.
  • Letusan menghasilkan asap mengepul, dentuman, serta semburan material berwarna merah berupa abu dan api.
  • Material vulkanik melayang dan masuk hingga ke pemukiman penduduk Pulau Sebesi.
  • Abu vulkanik berwarna hitam turun dari pagi hingga malam hari, memaksa warga membersihkan rumah berulang kali.
  • Cuaca sore berubah sangat gelap akibat pekatnya abu, memicu kepanikan warga.
  • Palang Merah Indonesia (PMI) menyalurkan bantuan masker pada hari pertama kejadian.
  • Warga berbondong-bondong keluar rumah menyaksikan letusan dari kejauhan dan mengabadikannya lewat ponsel.
  • Pendaran cahaya vulkanik membuat langit sekitar gunung berwarna merah saat malam.
  • Pada pantauan malam 7 September, kondisi Gunung Anak Krakatau sudah jauh lebih tenang tanpa hujan abu maupun pancaran cahaya merah.
  • Ritme harian warga Pulau Sebesi tetap berlangsung normal pasca-erupsi.
  • Aktivitas warga berkurang hanya pada malam hari sebagai langkah kewaspadaan.
  • Masyarakat diimbau tidak tidur terlalu lelap untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas vulkanik mendadak.
Tagar Terkait
#gunung anak krakatau#erupsi#bencana alam#lampung selatan#pulau sebesi#tsunami selat sunda
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya