Hujan Asam Pasca-Karhutla: Ketika Bencana Tak Benar-Benar Selesai saat Asap Mereda
Karhutla gambut melepaskan SO2 dan NOx besar-besaran yang bereaksi dengan uap air di atmosfer membentuk asam sulfat dan asam nitrat, menyebabkan hujan asam pasca-karhutla dengan pH jauh di bawah normal. Ancaman ini sering tidak disadari publik karena muncul diam-diam setelah asap mereda, mengendap di tanah, sungai, dan sumur warga. Dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian melalui gejala pada tubuh manusia, sementara alat pemantau resmi belum menjangkau ancaman ini.
Poin-Poin Utama
- Hujan asam pasca-karhutla terpantau sejak Juli dan masih berlangsung.
- Karhutla gambut melanda Indonesia setiap musim kemarau, termasuk 2019 dengan 1,6 juta hektar lahan terbakar.
- Sumber hujan asam: emisi PLTU, kendaraan, industri, pabrik, letusan gunung berapi, dan karhutla gambut.
- Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik ribuan tahun di bawah tanah.
- Gambut terbakar melepaskan emisi gas pencemar dalam jumlah jauh lebih besar dibanding kebakaran hutan biasa.
- Dua gas utama dari karhutla gambut: sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx).
- SO2 dan NOx bereaksi dengan uap air dan oksigen membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3).
- pH air hujan normal sekitar 5,6; pasca-karhutla jauh lebih asam.
- Ancaman ISPA sempat jadi sorotan utama saat asap tebal namun perhatian cepat memudar.
- Hujan asam muncul saat hujan pertama turun membasahi tanah pasca-karhutla.
- Bencana ini berpindah wujud dari udara tercemar menjadi air dan tanah teracuni.
- Air hujan asam jatuh ke tanah, sungai, dan sumur warga.
- Dampak sering baru disadari bertahun-tahun kemudian lewat gejala pada tubuh manusia.
- Alat pemantau resmi saat ini tidak menjangkau pencemaran air hujan asam tersebut.
- Kandungan sulfur pada material gambut membusuk jadi sumber emisi SO2 dan NOx.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.