ISPA Naik Imbas Erupsi Anak Krakatau, Komisi IX Minta RS Tak Boleh Tolak Pasien
Sejumlah wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau mengalami kenaikan kasus ISPA akibat sebaran abu vulkanik, dengan Provinsi Banten mencatat peningkatan hingga 2,5 kali lipat dari kondisi normal sekitar 2.000 kasus menjadi 4.500 kasus. Komisi IX DPR meminta Kemenkes dan pemerintah daerah berkoordinasi menyiapkan fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta obat-obatan, serta menegaskan puskesmas dan rumah sakit tidak boleh menolak pasien ISPA dengan mengutamakan pelayanan. Masyarakat diminta tetap waspada menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi saluran pernapasan dari bahaya abu vulkanik.
Poin-Poin Utama
- ISPA cases increased in areas around Gunung Anak Krakatau due to volcanic ash.
- Commission IX DPR asked Kemenkes and local governments to coordinate health facilities.
- Deputy Head of Commission IX Yahya Zaini requested medical supplies and personnel preparation.
- Health facilities are prohibited from rejecting ISPA patients.
- Puskesmas and hospitals must remain on standby.
- Citizens should wear masks when outside to prevent respiratory harm from volcanic ash.
- Citizens should wear glasses to avoid eye irritation from volcanic ash.
- Kemenkes and local governments must conduct socialization on volcanic ash health impacts.
- Lampung recorded 76 ISPA cases as of September 8, 2026.
- Banten's ISPA cases increased 2.5 times the normal rate.
- Banten Health Office attributed ISPA cases to volcanic ash exposure.
- Normal ISPA cases in Banten are around 2,000.
- Current ISPA cases in Banten reached approximately 4,500.
- Banten Governor Andra Soni confirmed the 2.5-fold increase in ISPA cases.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.