Puncak Panen, Harga Kopi di Pidie Mulai Melandai
robusta, arabika, dan liberika—mengalami penurunan sejak awal musim panen April hingga Juli 2026. Tokoh masyarakat dan petani setempat menilai posisi tawar petani masih lemah sehingga harga kerap ditentukan sepihak oleh tengkulak, sehingga pemerintah daerah diminta turun tangan mengawasi perkembangan harga agar petani tidak merugi. Produktivitas perkebunan di Kecamatan Tangse tercatat sekitar tiga ton per hektare dengan luas lahan 6.526 hektar yang tersebar di 28 gampong, dan panen masih akan berlangsung bertahap hingga akhir 2026.
Poin-Poin Utama
- Petani kopi di Kabupaten Pidie, Aceh, memasuki puncak musim panen.
- Sentra perkebunan kopi Pidie tersebar di Kecamatan Tangse, Mane, dan Geumpang.
- Kawasan tersebut menghasilkan kopi robusta, arabika, dan liberika (kopi panah).
- Harga gabah kopi robusta kering panen turun ke Rp60.000 per kilogram.
- Harga robusta sebelumnya Rp65.000 per kilogram pada awal panen April–Juli 2026.
- Harga gabah kopi arabika kering panen turun dari Rp90.000 menjadi Rp80.000 per kilogram.
- Harga kopi liberika turun dari Rp62.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.
- Tokoh masyarakat Tangse, Fakhruddin, menyatakan penurunan belum menyebabkan kerugian petani.
- Keuntungan petani saat ini lebih kecil dibanding awal musim panen tiga bulan lalu.
- Petani Kecamatan Mane mengeluh posisi tawar lemah sehingga harga ditentukan tengkulak.
- Musim panen kopi di Tangse berlangsung hingga akhir 2026.
- Waktu panen berbeda antar kawasan karena geografis pegunungan yang tidak seragam.
- Luas perkebunan kopi di Kecamatan Tangse mencapai 6.526 hektar tersebar di 28 gampong.
- Produktivitas rata-rata perkebunan kopi Tangse sekitar tiga ton per hektar.
- Puncak panen biasanya berlangsung pada Agustus dan berlanjut bertahap beberapa bulan berikutnya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.