Puncak Panen Kopi di Pidie Aceh, Harga Gabah Justru Melandai
Petani kopi di Kabupaten Pidie, Aceh, memasuki puncak panen raya dengan produksi melimpah, namun harga biji gabah kopi kering justru menurun untuk tiga jenis utama: Robusta (Rp65.000 jadi Rp60.000/kg), Arabika (Rp90.000 jadi Rp80.000/kg), dan Liberika (Rp62.000 jadi Rp55.000/kg). Dugaan kuat menyebutkan pedagang penampung dan tengkulak memanfaatkan momentum panen raya untuk menekan harga beli di tingkat petani, sementara penyebab pasti belum diketahui. Tokoh masyarakat setempat berharap pemerintah turun tangan mengendalikan harga agar kesejahteraan petani tetap terjaga hingga akhir musim panen yang berlangsung bertahap sampai akhir 2026.
Poin-Poin Utama
- Kabupaten Pidie, Aceh, memasuki puncak panen raya kopi.
- Kawasan produksi kopi tersebar di tiga kecamatan: Tangse, Mane, dan Geumpang.
- Kopi dimanfaatkan untuk industri kosmetik, puding, dan es krim.
- Harga Kopi Robusta turun dari Rp65.000 menjadi Rp60.000 per kg.
- Harga Kopi Arabika turun dari Rp90.000 menjadi Rp80.000 per kg.
- Harga Kopi Liberika turun dari Rp62.000 menjadi Rp55.000 per kg.
- Harga awal musim panen tercatat pada periode April hingga Juli.
- Penurunan harga terjadi saat panen raya dengan dugaan permainan harga oleh pedagang penampung dan tengkulak.
- Fakhruddin, pemilik kebun kopi di Kecamatan Tangse, menyatakan margin keuntungan petani mengecil dibanding awal musim.
- Seorang petani di Kecamatan Mane mengeluhkan harga ditentukan sepihak oleh pembeli atau tengkulak.
- Muhammad Khaifal dari Desa Ulee Gunong memperkirakan musim panen berlangsung hingga akhir tahun 2026.
- Luas lahan kopi di Tangse sekitar 6.526 hektar tersebar di 28 Gampong.
- Produktivitas rata-rata lahan kopi di Tangse mencapai 3 ton per hektar.
- Puncak panen raya di Tangse umumnya terjadi pada bulan Agustus.
- Fakhruddin menjabat sebagai Pawang Hutan di Kabupaten Pidie.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.