Kelompok-kelompok Perusuh 27 Agustus 2026 Diduga Didalangi Pihak Ketiga, Terkait Politik?
Artikel membahas kerusuhan pada 27 Agustus 2026 di sekitar Gedung DPR dan Pejompongan, Jakarta Pusat, yang menyebabkan tewasnya pedagang cermin Bambang Setiyawan akibat pengeroyokan. Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dan Indonesia Risk Center mengidentifikasi setidaknya tiga hingga lebih dari empat kelompok terorganisir—dengan ciri khas seperti ikat kepala putih, kaus hitam bersepatu PDL, serta membawa kayu kaso dan tas gemblok hitam—yang datang setelah demonstran asli bubar untuk menciptakan instabilitas sosial. Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso juga menyoroti pola serupa dengan kerusuhan 27 Agustus 2025, menegaskan bahwa motif di balik kelompok-kelompok tersebut dipastikan bersifat politik, bukan penyampaian aspirasi, sehingga publik mendesak polisi mengusut aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
Poin-Poin Utama
- Polisi buru pelaku pengeroyokan Bambang Setiyawan (60), pedagang cermin Pejompongan, korban tewas.
- TAUD duga ada auktor intelektualis di balik kerusuhan 27 Agustus 2026 malam.
- TAUD catat sedikitnya tiga kelompok terindikasi dikondisikan lakukan kekerasan.
- Dua kelompok berikat kepala putih tiba lewat tol tanpa bayar, iringi truk, motor, dan bus.
- Kelompok ketiga tak berikat kepala putih, badan tegap, lakukan pengeroyokan di Jalan KS Tubun dan Pejompongan Raya.
- Ketua Indonesia Risk Center Julius Ibrani konfirmasi laporan TAUD.
- Julius catat lebih dari empat kelompok datang dengan kode khusus ke sekitar DPR.
- Kode kelompok: ikat kepala putih, kaus hitam sepatu PDL, kayu kaso, tas gemblok hitam.
- Kelompok tiba di sekitar DPR dengan waktu dan titik kedatangan berbeda-beda.
- Julius nyatakan pelaku perusuh, bukan penumpang gelap demonstran.
- Julius sebut target ciptakan instabilitas sosial politik.
- Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso lihat pola sama dengan kerusuhan 27 Agustus 2025.
- Gelombang pertama demo tertib sebelum pukul 18.00 WIB, suarakan pemberantasan korupsi dan pengesahan RUU Perampasan Aset.
- Gelombang kedua datang setelah pukul 19.00 WIB, beberapa kelompok total capai 1.500-an orang.
- Publik desak polisi ungkap dalang, bukan hanya buru pelaku.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.