Dari Tempurung hingga Tongkol, Limbah Pertanian Disulap Jadi Energi
Tim peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan teknologi pirolisis dengan reaktor simultan berdinding tiga untuk mengubah limbah biomassa pertanian dan perkebunan, seperti tempurung, kulit, dan tongkol, menjadi charcoal dan asap cair sekaligus. Reaktor sistem tertutup dengan isolator termal ini beroperasi pada suhu 300-500 derajat Celsius selama sekitar 2,5 jam, menghasilkan potensi 37 persen charcoal bernilai kalor 6.000-7.000 kkal/kg dan 42 persen asap cair. Charcoal berpotensi sebagai sumber energi, briket, bioadsorben limbah cair, dan bahan penjernih VCO, sementara asap cair berpeluang dikembangkan menjadi biopestisida ramah lingkungan, dengan prototipe masih menjalani pengujian stabilitas suhu, efisiensi energi, keselamatan, dan konsistensi mutu.
Poin-Poin Utama
- Tim UMI kembangkan teknologi pirolisis untuk ubah limbah biomassa jadi charcoal dan asap cair.
- Bahan baku meliputi tempurung, kulit, tongkol, dan sisa tanaman mengandung karbon.
- Reaktor pirolisis simultan berdinding tiga (three-layer) berbahan stainless steel.
- Reaktor beroperasi pada suhu 300-500 derajat Celsius.
- Waktu pirolisis rata-rata sekitar 2,5 jam.
- Charcoal hasil memiliki nilai kalor 6.000-7.000 kilokalori per kilogram.
- Potensi hasil mencapai 37 persen charcoal dan 42 persen asap cair.
- Reaktor menerapkan sistem dinding berlapis tiga dengan isolator termal dapat dilepas.
- Isolator berfungsi mengurangi kehilangan panas dan membantu pengeringan awal biomassa.
- Charcoal berpotensi sebagai sumber energi, briket, dan bioadsorben limbah cair.
- Asap cair berpotensi dikembangkan sebagai biopestisida ramah lingkungan.
- Asap cair juga berpotensi sebagai bahan penyaring virgin coconut oil (VCO).
- Prof. Andi Aladin dari FTI UMI memimpin penelitian ini.
- Prototipe akan diuji pada kestabilan suhu, efisiensi energi, dan keselamatan operator.
- Pengujian mencakup konsistensi mutu charcoal dan asap cair.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Liputan6.