Badan Geologi: Erupsi Gunung Anak Krakatau tak Berpotensi Tsunami, Nelayan Bisa Berlayar
Badan Geologi menyatakan erupsi Gunung Anak Krakatau telah memasuki fase strombolian atau menurun, sehingga tidak berpotensi memicu tsunami seperti erupsi 2018 karena tidak ada pergerakan dinding gunung yang bisa menyebabkan longsor. Data BMKG pada 4-6 September juga tidak menunjukkan anomali muka laut. Meskipun potensi erupsi susulan masih terbuka, Badan Geologi menegaskan belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan dan seberapa luas erupsi akan terjadi, namun aktivitas terkini tidak mengindikasikan eskalasi.
Poin-Poin Utama
- Erupsi Gunung Anak Krakatau telah memasuki fase strombolian dan mengalami penurunan aktivitas.
- Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan erupsi saat ini tidak berpotensi menyebabkan tsunami.
- Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan pernyataan tersebut pada Selasa (8/9/2026).
- Erupsi Gunung Anak Krakatau tahun 2018 sebelumnya memicu tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung.
- Data deformasi menunjukkan tidak ada pergerakan dinding gunung yang berpotensi longsor.
- Lereng gunung saat ini dinilai dangkal sehingga tidak memicu tsunami.
- Data BMKG periode 4-6 September 2026 tidak menunjukkan anomali muka laut.
- Tidak ada anomali muka laut yang menandakan potensi tsunami.
- Potensi erupsi susulan masih terbuka menurut Lana Saria.
- Belum ada teknologi di negara mana pun yang bisa memprediksi waktu dan skala erupsi secara akurat.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.