Orang-orang yang Terlambat Datang ke Sungai
sapu karena limbah industri yang datang beberapa tahun lalu. Sungai yang dulu jernih, menjadi tempat lomba renang anak-anak dan sumber ikan bagi Sasmoyo, kini telah berubah keruh, berbau asam, dan mematikan. Tragedi tenggelamnya Wisang, anak Sasmoyo, akibat arus sungai yang tercemar dianggap sebagai sasmita atau petunjuk tentang kerusakan desa mereka.
Poin-Poin Utama
- Warga Karang Puputan gelar kerja bakti bersih sungai bawa cangkul, ember, sekop, sabit, serok, karung bekas.
- Aksi dimulai sebelum azan, bertujuan bersihkan sungai dari sampah dan limbah.
- Kondisi sungai: air keruh, hitam-hijau, berbau asam, mengilap, tak layak konsumsi.
- Sungai hanya ditinggali ikan sapu-sapu, jenis ikan lain sudah eksodus.
- Anak-anak sudah bertahun-tahun dilarang bermain di sungai karena risiko kesehatan.
- Dulu sungai jadi lokasi lomba renang anak, dasar sungai masih terlihat jelas.
- Sasmoyo rutin menjala sore hari, dapat nila, lele, tawes, gabus untuk lauk keluarga.
- Truk dan mesin industri datang, Sasmoyo berhenti menjala karena air berubah.
- Putra Sasmoyo, Wisang, jatuh ke sungai saat cerah, terseret arus lambat.
- Jasad Wisang ditemukan dua hari kemudian, ratusan meter dari titik jatuh.
- RS sebut paru-paru Wisang penuh cairan berkarat.
- Insiden ini jadi kasus tenggelam pertama tercatat di sungai desa.
- Teks berakhir di tengah kutipan: "Andai sungai itu jernih, Wisang bisa belajar berenang. Sayang
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.