Mengenal Muraqabah, Rem Batin yang Nyaris Dilupakan Umat Islam di Era Modern
Artikel membahas konsep muraqabah dalam tasawuf sebagai kesadaran bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Mengawasi setiap perbuatan manusia, dijelaskan oleh KH Ahmad Muhammad Mustain Nasoha dalam kajian Kitab Ihya' Ulumuddin di Masjid Agung Surakarta. Kesadaran ini berfungsi sebagai 'rem batin' yang membentuk perilaku nyata, seperti menjaga lisan, hati, dan perbuatan meskipun tidak ada orang lain yang mengawasi. Menurut Imam Al-Ghazali, muraqabah bukan sekadar pengetahuan teoretis, tetapi harus melahirkan keikhlasan, istiqamah, wara', dan kebiasaan muhasabah agar kualitas keberagamaan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Poin-Poin Utama
- Muraqabah konsep tasawuf berarti kesadaran bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi setiap perbuatan manusia.
- Konsep muraqabah dibahas oleh KH Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta.
- Kajian berlangsung di Masjid Agung Surakarta, menggunakan kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
- Muraqabah berfungsi sebagai 'rem batin' yang mendorong kejujuran, menjaga lisan, dan menghindari perbuatan tercela.
- Kesadaran muraqabah membuat seseorang berhati-hati bahkan saat tidak ada manusia lain yang melihat.
- Imam Al-Ghazali menempatkan muraqabah sebagai kesadaran spiritual yang memengaruhi perilaku nyata, bukan sekadar hafalan sifat Allah.
- Muraqabah seharusnya melahirkan keikhlasan, istiqamah, wara', dan kebiasaan muhasabah (introspeksi diri).
- Kualitas keberagamaan seseorang tercermin dari sikap saat menghadapi godaan sehari-hari, bukan hanya saat di masjid atau beribadah ritual.
- Kutipan penjelasan Gus Mustain disampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id pada Rabu (9/9/2026).
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.