Trump Beri Uang Tunai Rp789 Juta kepada Stafnya, Malah Bisa Berujung Pemakzulan
Presiden AS Donald Trump memberikan hadiah uang tunai sebesar USD45.000 (sekitar Rp789 juta) kepada tiga staf Gedung Putih, termasuk asisten eksekutifnya Natalie Harp, dengan label 'Hadiah Uang Tunai untuk Liburan' dalam formulir pengungkapan keuangan. Gedung Putih membela pemberian tersebut sebagai kebiasaan lama Trump yang tidak melanggar hukum, namun mantan pengacara etik Richard Painter menilai hadiah itu melanggar undang-undang federal tentang kompensasi pegawai pemerintah dan berpotensi memicu konsekuensi hukum hingga pemakzulan terhadap Trump.
Poin-Poin Utama
- Trump memberikan uang tunai USD45.000 (sekitar Rp789 juta) kepada asisten eksekutifnya Natalie Harp.
- Laporan The Washington Post terbit pada Kamis (10/9/2026).
- Dua pegawai Gedung Putih lain, Margo Martin dan Chamberlain Harris, masing-masing menerima USD45.000.
- Ketiga perempuan menyebut pembayaran itu sebagai 'Hadiah Uang Tunai untuk Liburan' pada formulir pengungkapan keuangan.
- Harp menerima gaji USD150.000 per tahun sebagai asisten khusus dan asisten eksekutif presiden.
- Gedung Putih menyatakan hadiah tidak berkaitan dengan tugas individu dan diperbolehkan secara hukum serta etika.
- Mantan pengacara etik Gedung Putih Richard Painter menilai pemberian itu melanggar undang-undang pidana federal.
- Painter menyebut potensi konsekuensi termasuk pemakzulan terhadap Presiden Trump.
- Harp bergabung dengan tim politik Trump pada 2022.
- Martin bekerja pada pemerintahan pertama Trump dan tetap menjadi staf setelah Trump kembali ke Florida.
- Harris bekerja pada pemerintahan pertama Trump lalu di organisasi politik Trump dan kembali ke Gedung Putih pada 2025.
- Harp hampir selalu mendampingi Trump selama masa jabatan keduanya.
- Harp dijuluki 'printer manusia' karena mengetik unggahan media sosial dan mencetak informasi untuk Trump.
- Painter adalah kepala pengacara etik Gedung Putih pada masa pemerintahan George W. Bush.
- Painter menyoroti hubungan kerja sebelumnya ketiga staf tersebut dengan Trump sebagai inti kekhawatirannya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.