Wajah Demokrasi dalam Gelombang Demonstrasi
Dua gelombang demonstrasi pada Agustus 2026, yakni aksi mahasiswa di Bundaran HI dan aksi AMPB di Gedung MPR/DPR/DPD, menunjukkan dinamika Demokrasi yang semakin menjadi peristiwa tahunan. Monitoring media sosial oleh Litbang Kompas terhadap 120.289 konten menemukan sentimen negatif dominan pada kedua aksi, dengan nilai neto negatif 45,2 persen pada demonstrasi mahasiswa dan negatif 43,7 persen pada aksi AMPB. Sentimen negatif tersebut bukan penolakan terhadap gerakan demonstrasi, melainkan ungkapan kegundahan warganet terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik, termasuk kekhawatiran adanya massa bayaran, beban ekonomi dan pajak, serta lambannya pembahasan RUUN Perampasan Aset.
Poin-Poin Utama
- Dua gelombang demonstrasi terjadi pada Agustus 2026 di Jakarta.
- Demonstrasi pertama berlangsung 18 Agustus 2026 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
- Aksi #MerebutKemerdekaan digagas BEM UI bersama mahasiswa kampus lain.
- Demonstrasi kedua terjadi 27 Agustus 2026 di Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan.
- Demonstrasi kedua diinisiasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
- Litbang Kompas memonitor media sosial 17 Agustus–1 September 2026.
- 120.289 konten dan komentar relevan terkumpul dari enam platform media sosial.
- Demonstrasi 18 Agustus meraih sentimen positif 14,4%, netral 26%, negatif 59,6%.
- Nilai sentimen neto demonstrasi mahasiswa berada di negatif 45,2%.
- Sentimen negatif dominan mencerminkan keluh kesah kondisi sosial, ekonomi, politik.
- Orator BEM UI Fathimah Azzahra meraih sentimen neto positif 25,5%.
- Kekhawatiran massa bayaran dan buzzer mencatatkan sentimen neto negatif 70%.
- Keluhan ekonomi, pajak, dan harga kebutuhan pokok tercatat negatif 59,6%.
- Pembahasan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset mencatatkan negatif 57,8%.
- Demonstrasi AMPB yang dipimpin Supriyono alias Botok mencatat negatif 43,7%.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.