Bagaimana Afasia Mengasingkan Penyintas Pascastrok
Banyak penyintas strok mengalami afasia atau kehilangan kemampuan bicara, yang justru menjadi jenis disabilitas paling terabaikan padahal 30-40% pasien pascastroke mengalaminya. Di Indonesia, strok menyebabkan 350 ribu kematian setiap tahun dan separuh penderitanya mengalami disabilitas jangka panjang. Afasia tidak memengaruhi kecerdasan—penderita tahu apa yang ingin dikatakannya namun kesulitan mengungkapkan, sehingga mereka sering mengurung diri dan merasa terisolasi dari lingkungan sosial.
Poin-Poin Utama
- Afasia adalah kehilangan kemampuan bicara akibat strok.
- Di Indonesia strok menyebabkan 350 ribu kematian setiap tahun.
- Separuh penderita strok mengalami disabilitas jangka panjang.
- Pasien yang selamat dari strok berisiko mengalami kecacatan permanen berupa kelumpuhan anggota tubuh.
- American Speech-Language-Hearing Association menyebutkan 30%-40% pasien pascastroke mengalami afasia.
- Afasia tidak memengaruhi tingkat kecerdasan penyintas strok.
- Pasien afasia tidak mengalami gangguan berpikir tetapi kesulitan mengungkapkan pikiran.
- Laporan angka kejadian afasia masih rendah karena sering tertutup gejala strok lain yang lebih mudah terlihat.
- Gangguan afasia memiliki dimensi gender dalam masyarakat patriarkal.
- Lelaki dengan afasia mengalami tekanan sosial lebih besar karena diharapkan mampu menyampaikan pandangan secara lugas.
- Perempuan dengan afasia semakin disulitkan dalam mengekspresikan perasaan maupun pikiran.
- Penderita afasia menghindari percakapan karena malu dan takut salah mengucapkan kata.
- Tim peneliti CAEF dari Indonesia dan Australia merancang aplikasi berbasis web bagi penderita strok.
- Penelitian berlangsung di Manado dan Gorontalo dengan sponsor KONEKSI.
- Penderita afasia merasa terisolasi dan seolah terlempar dari lingkungan sosialnya.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.