Puisi-puisi Supali Kasim
puisinya mengangkat tema kolonialisme, sejarah, dan modernisasi, seperti pada puisi Pohon-pohon Asam di Tepi Jalan Raya yang merefleksikan perubahan dari masa penjajahan Belanda hingga era digital. Puisi lainnya seperti Terowongan Cisumdawu dan Memetik Stroberi juga mengeksplorasi tema serupa tentang hubungan antara masa lalu kolonial dan masa kini.
Poin-Poin Utama
- Supali Kasim tinggal di Indramayu, Jawa Barat.
- Beberapa puisinya pernah dimuat di media massa.
- Puisi "Pohon-pohon Asam di Tepi Jalan Raya" ditulis di Indramayu-Cirebon pada Agustus 2026.
- Puisi "Terowongan Cisumdawu" ditulis di Indramayu-Bandung pada 2026.
- Puisi "Memetik Stroberi" ditulis di Bandung pada 2026.
- Puisi "Terowongan Cisumdawu" merujuk pada pembangunan jalan raya pos oleh Daendels.
- Jalan pos Daendels menembus batuan keras melalui Pegunungan Cisumdawu.
- Ratu Wilhelmina dan uang bolongnya menjadi simbol penjajahan dalam puisi.
- Tentara Jepang mendarat di Kranggan, Eretan Kulon, dan Banten.
- Puisi "Memetik Stroberi" merujuk pada sistem Cultuurstelsel Van den Bosch.
- Preangerstelsel memaksa rakyat menanam teh, kopi, nila, kina, tebu, dan lada.
- Pohon-pohon asam digambarkan berubah menjadi tiang listrik dan telepon.
- Burung-burung desa kehilangan tempat berteduh karena pohon-pohon asam hilang.
- Kumpulan puisi ini mengangkat tema kolonialisme, sejarah, dan modernisasi.
- Nama-nama Teletubbies Tinky Winky, Dipsy, Laa-laa, dan Po muncul dalam puisi "Terowongan Cisumdawu".
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.