Risiko Krisis Pangan Menguat melalui Lima Kanal
Risiko krisis pangan global menguat melalui lima kanal, yakni perang, cuaca, air, logistik, dan susut pangan, dengan Indonesia bersama India, Brasil, dan Kolombia menjadi negara paling rentan terhadap krisis tersebut akibat bobot pangan yang tinggi dalam struktur inflasi. Laporan Indef memperkirakan inflasi pangan global melonjak dari 2,8 persen pada semester I-2026 menjadi 5 persen pada semester I-2027, didorong konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok serta Super El Nino yang menyebabkan kekeringan dan mengancam produksi pangan. Krisis tersebut bertransmisi ke perekonomian secara luas melalui pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan biaya impor akibat pelemahan rupiah, dan potensi efek putaran kedua terhadap inflasi nonpangan.
Poin-Poin Utama
- Risiko krisis pangan global menguat melalui lima kanal, yaitu perang, cuaca, air, logistik, dan susut pangan.
- Indonesia, India, Brasil, dan Kolombia menjadi negara paling rentan terhadap krisis pangan.
- Inflasi pangan global diprakirakan naik dari 2,8% pada semester I-2026 menjadi 5% pada semester I-2027.
- Laporan Indef bertajuk "Menakar Risiko Fiskal di Balik Ambisi Transisi Energi dan Ketahanan Pangan Nasional".
- Konflik AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026 mengganggu perdagangan di Selat Hormuz.
- Super El Nino bertahan hingga awal 2027 dan memicu kekeringan panjang.
- Susut pangan pascapanen dan inefisiensi rantai pasok memperbesar kesenjangan produksi dan ketersediaan pangan.
- Kenaikan harga pangan menggerus daya beli masyarakat berpendapatan rendah.
- Biaya impor pangan tinggi dan rupiah melemah mengerek biaya produksi industri pangan olahan.
- Tekanan inflasi pangan berpotensi merembet menjadi efek putaran kedua terhadap inflasi nonpangan.
- Bobot pangan dalam keranjang CPI Indonesia sebesar 28%.
- India memiliki bobot pangan tertinggi sebesar 46%, diikuti Brasil 21% dan Kolombia 17%.
- Keempat negara rentan memiliki populasi agraris signifikan dan pola konsumsi pangan pokok.
- Musim paceklik beras di Indonesia berbarengan dengan El Nino menambah risiko gejolak harga.
- Sektor jasa modern di negara berkembang belum cukup matang untuk mengencerkan porsi pangan dalam inflasi.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.