Air Mata Nagawan Into
Nagawan kembali ke sungai yang dulu jernih namun kini tercemar limbah beracun, menguaknya dampak penambangan ilegal emas yang telah merusak lingkungan dan mengubah perilaku suku selama sembilan bulan tanpa hujan. Putra Nagawan memilih ikut menambang meskipun ayahnya membujuk untuk tetap tinggal di uma, sementara para pemuda suku lainnya juga meninggalkan hutan dan tradisi demi uang dan gaya hidup kota. Nagawan merasa sedih dan tak berdaya menghadapi kehancuran hutan yang dulunya rumah dan sumber kehidupan bagi sukunya.
Poin-Poin Utama
- Sungai tempat tokoh utama berwudhu kini berwarna kekuningan, berminyak, dan berbau logam bercampur lumpur.
- Tiga ekor ikan mati ditemukan mengambang dengan perut membusung putih di dekat tepi sungai.
- Wilayah bukit-bukit Amungme mengalami kekeringan selama sembilan bulan tanpa hujan.
- Bukit-bukit di Mimika kini retak, hutan mengering, dan tanah gersang semakin meluas.
- Limbah beracun telah mencemari sungai-sungai di lembah, mengubah airnya menjadi keruh kekuningan.
- Pemuda-pemuda suku Amungme telah menjadi penambang ilegal emas selama beberapa tahun terakhir.
- Emas hasil penambangan ilegal dijual kepada penadah yang terafiliasi dengan perusahaan tambang.
- Perilaku penambangan telah membuat harimau, monyet, dan babi hutan menjadi agresif dan menyerang manusia.
- Uang, pakaian, mi instan, dan beras menjadi daya tarik utama bagi pemuda suku untuk menambang.
- Pertukaran mi instan dan pakaian dengan air fermentasi sagu mendorong anggota suku meninggalkan hutan.
- Putra tokoh utama mendapat linggis dari karyawan tambang untuk menambang emas di hutan.
- Bulan lalu seorang pemuda suku ditemukan tewas dengan tubuh tercacah-cacah, kemungkinan dimakan harimau.
- Upacara potong jari dilakukan sebagai tanda berkabung atas kematian pemuda yang diterkam harimau.
- Pasukan militer sering mengamankan situs tambang tidak berizin dan menembak penambang ilegal.
- Dahulu sungai-sungai di wilayah tersebut masih jernih dan banyak ikan gobi yang bisa ditangkap.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.