Jangan Asal Beri Nasihat, Ini Kunci Dampingi Anggota Keluarga yang Alami Tekanan Mental
Psikolog Efnie Indrianie menekankan bahwa keluarga tidak selalu perlu memberikan solusi instan kepada anggota yang mengalami tekanan mental. Kehadiran yang menenangkan dan penciptaan ruang aman jauh lebih bermakna dalam proses pemulihan. Keluarga dapat menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata seperti menemani aktivitas ringan, memberikan bantuan praktis tanpa memaksa respons cepat, serta menyampaikan kalimat empati yang menanamkan rasa aman.
Poin-Poin Utama
- Psikolog Efnie Indrianie membagikan panduan mendampingi anggota keluarga yang mengalami tekanan mental.
- Efnie merupakan psikolog spesialis anak, remaja, dan keluarga.
- Ia bertugas sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.
- Panduan tersebut disampaikan di Jakarta pada 10 Oktober.
- Efnie juga tercatat sebagai anggota Asosiasi Neuropsikologi Indonesia dan HIMPSI.
- Tekanan psikologis berkepanjangan dapat mengaktifkan sistem respons stres di otak.
- Aktivasi sistem stres berlebihan mampu menurunkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi.
- Tekanan berkepanjangan juga dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan.
- Sikap tertutup seseorang sering dilandasi rasa takut dihakimi dan kekhawatiran menjadi beban.
- Keluarga disarankan tidak memaksa anggota keluarga yang menarik diri untuk bercerita.
- Kehadiran yang menenangkan dianggap lebih bermakna daripada nasihat yang datang terlalu cepat.
- Keluarga dapat menunjukkan kepedulian dengan menemani aktivitas ringan bersama.
- Perhatian dan bantuan praktis tanpa menuntut respons verbal instan merupakan bentuk dukungan yang efektif.
- Kalimat empati mampu menyampaikan tiga pesan krusial: saya memperhatikan, saya peduli, dan saya ada untuk Anda.
- Keluarga wajib sigap mengambil tindakan perlindungan apabila muncul risiko keselamatan bagi individu tersebut.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.