Estafet Mengelola Sampah Jakarta
Jakarta menghasilkan 9.059 ton sampah per hari dan sangat bergantung pada TPST Bantargebang yang telah melampaui kapasitas, sehingga penanganan sampah memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pengelolaan sampah dilakukan dari hulu ke hilir melalui metode reduce, reuse, recycle, Bank Sampah, TPS3R, hingga pengolahan di pusat olah organik. TPST Bantargebang kini bertransformasi dari sistem open dumping menjadi controlled landfill sejak 1 Agustus 2026 untuk meningkatkan pengelolaan sampah yang lebih tertata dan berkelanjutan.
Poin-Poin Utama
- Total timbulan sampah Jakarta mencapai 9.059 ton per hari.
- TPST Bantargebang saat ini melebihi kapasitas penanganan sampah.
- Penanganan sampah memerlukan upaya terpadu dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
- Pilah sampah berbasis sumber adalah proses pemilahan sampah di tempat asalnya berdasarkan kategori jenis.
- Pengolahan sampah tahap hulu meliputi reduce, reuse, recycle, bioregister, magot, biopori, dan komposter.
- Pengolahan sampah tahap tengah melibatkan RDF Jakarta, Bank Sampah, Bank Sampah Induk, TPS3R, dan Pusat Olah Organik.
- TPST Bantargebang telah mencapai batas maksimal kapasitas.
- Sistem open dumping membuang dan menumpuk sampah di lahan terbuka tanpa proses pengolahan.
- Sejak 1 Agustus 2026 TPST Bantargebang beralih dari sistem open dumping ke controlled landfill.
- Sistem controlled landfill menimbun, meratakan, dan memadatkan sampah menggunakan alat berat.
- Sampah pada sistem controlled landfill ditutup dengan lapisan geomembran dan tanah.
- Penutupan lapisan pada controlled landfill dilakukan setiap 7 hari atau setiap ketinggian tertentu.
- Tujuan penanganan sampah adalah menciptakan Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
- Pengolahan sampah dilakukan dari sumber hingga tahap akhir.
- Pendekatan penanganan sampah berbasis kolaborasi diterapkan dari hulu hingga hilir.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.