Sulfur Dioksida dari Gunung Anak Krakatau Disebut Sampai ke Jateng, Bagaimana Faktanya?
Artikel membahas klaim di media sosial bahwa sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar hingga ke Jawa Tengah, yang menimbulkan kepanikan warga seperti Yanti di Batang dan Budi di Semarang. BMKG melalui Kepala Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menyatakan bahwa gambar dan video tersebut berasal dari aplikasi yang bukan rujukan resmi, dan acuan pemerintah biasanya menggunakan data dari citra satelit BMKG, PVMBG, serta VAAC Darwin. Meskipun demikian, BMKG dan pihak terkait tetap menindaklanjuti dengan melakukan paper test untuk mendeteksi sebaran abu vulkanik di permukaan.
Poin-Poin Utama
- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi beruntun pada 4–6 September 2026.
- Media sosial ramai memberitakan sebaran sulfur dioksida dari Gunung Anak Krakatsu hingga Jawa Tengah.
- Yanti, warga Batang, meminta anaknya memakai masker dan membatasi kegiatan luar ruang.
- Anak Yanti berusia 5 tahun dan memiliki riwayat gangguan pernapasan.
- Budi meminta istri dan anaknya memakai masker saat keluar rumah.
- Budi membatasi kegiatan luar rumah dan membersihkan badan setelah pulang.
- Budi rutin membersihkan badan dan mengganti pakaian setelah kegiatan luar ruang.
- Informasi sebaran sulfur dioksida di Jawa Tengah belum diverifikasi pemerintah.
- BMKG menyebut gambar dan video yang tersebar bukan berasal dari sumber rujukan resmi.
- BMKG memakai citra satelit untuk memantau sebaran dampak erupsi.
- PVMBG menjadi salah satu lembaga resmi acuan pemantauan erupsi.
- VAAC Darwin juga menjadi lembaga acuan pemantauan dampak erupsi.
- BMKG dan pihak terkait melakukan paper test untuk mendeteksi abu vulkanik.
- Paper test menempatkan kertas hitam atau putih di luar ruang selama periode tertentu.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.