Beranda Minggu, 13 September 2026

!online

Lingkungan Netral

Operasi Modifikasi Cuaca Dilanjutkan untuk Bersihkan Abu Anak Krakatau

Selasa, 8 September 2026, 13:18 WIB Sumber: Media Indonesia
Ukuran:

BMKG bersama BNPB dan pihak terkait melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 7 September 2026 untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, dengan lima sorti penerbangan menggunakan dua pesawat Cessna Caravan dari Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma. Aktivitas vulkanik GAK masih berlangsung dengan erupsi strombolian kecil, namun delapan bandara yang sebelumnya ditutup telah dinyatakan negatif abu vulkanik dan kembali beroperasi. BMKG menilai probabilitas tsunami berada pada kategori rendah dan belum mendeteksi anomali muka air laut berdasarkan pemantauan 20 tsunami gauge dan HF Radar Array.

Poin-Poin Utama

  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan BMKG bersama BNPB, Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait sejak 7 September 2026.
  • Hingga Selasa (8/9), OMC telah dilakukan sebanyak lima sorti penerbangan.
  • Metode OMC meliputi penyemaian awan hujan dan penyemprotan watermist.
  • Satu sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, satu sorti liquid CaCl2, dan tiga sorti menggunakan spraying atau watermist.
  • Operasi menggunakan dua pesawat Cessna Caravan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.
  • Pada pukul 07.49 WIB teramati erupsi baru dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.
  • Erupsi tersebut masuk kategori strombolian atau erupsi kecil berdasarkan informasi PVMBG.
  • Sebaran abu vulkanik umumnya berada hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer.
  • Material abu bergerak ke arah selatan hingga barat daya dengan kecepatan 5-10 knot.
  • Sebaran mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut hingga Samudra Hindia di barat laut Banten.
  • Hasil paper test hingga pukul 06.00 WIB menyatakan delapan bandara yang sebelumnya ditutup negatif abu vulkanik.
  • Delapan bandara tersebut adalah Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Muhammad Taufik Kiemas, Radin Inten II, dan Salakanagara Tanjung Lesung.
  • BMKG memantau melalui 20 tsunami gauge serta HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung.
  • Pemantauan belum menemukan anomali muka air laut atau perubahan pola arus permukaan signifikan per 8 September 2026.
  • Probabilitas tsunami berada pada kategori rendah.
Tagar Terkait
#gunung anak krakatau#abu vulkanik#bmkg#bnpb#operasi modifikasi cuaca
Ingin membaca liputan lengkap di portal penerbit?

Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.

Buka Sumber di Media Indonesia

Warta Terkini Lainnya