Dokter Paru Ungkap Alasan Tak Boleh Pakai Masker Basah untuk Tangkal Abu Vulkanik
pori rusak, filtrasi menurun, dan menjadi media pertumbuhan bakteri serta jamur. Paparan abu vulkanik tanpa perlindungan tepat dapat menyebabkan iritasi saluran napas, batuk kering, sesak napas, hingga memperparah asma atau PPOK. Dokter merekomendasikan penggunaan masker kering, khususnya N95, serta tetap berada di dalam ruangan selama hujan abu dan menggunakan pelindung mata jika harus keluar.
Poin-Poin Utama
- Masker yang basah mengalami kerusakan struktur pada pori-porinya.
- Abu vulkanik mengandung partikel silika, kristal, dan zat kimia korosif yang sangat halus.
- Masker basah menutup pori-pori kain atau filter sehingga pengguna merasa lebih sesak napas.
- Kondisi basah pada masker memaksa paru-paru bekerja lebih keras untuk menghirup oksigen.
- Air yang terserap ke dalam serat masker merusak lapisan elektrostatis pada masker medis atau N95.
- Partikel abu vulkanik yang sangat kecil tetap bisa menembus masker basah ke saluran napas.
- Masker lembap menjadi media pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
- Paparan langsung tanpa perlindungan tepat menyebabkan iritasi hebat pada saluran pernapasan.
- Partikel tajam dalam abu dapat menyebabkan luka kecil di jaringan paru dan batuk kering.
- Paparan abu memperparah kondisi penderita asma atau PPOK.
- Masker N95 disarankan karena memiliki kemampuan filtrasi hingga 95% terhadap partikel halus.
- Masker bedah harus diganti segera jika terasa kotor atau lembap karena keringat.
- Masyarakat diimbau tetap berada di dalam ruangan selama hujan abu berlangsung.
- Pengguna perlu memakai pelindung mata (goggle) saat keluar rumah untuk menghindari iritasi akibat partikel kristal.
- Dokter melarang eksperimen mandiri terhadap alat pelindung diri di tengah bencana alam.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Media Indonesia.