Geliat Ekonomi Informal Afrika dalam Belenggu ”Kutukan” Sumber Daya
Benua Afrika kaya sumber daya alam, namun terjebak konflik, korupsi, dan kesenjangan sehingga jutaan warganya bergantung pada ekonomi informal yang kini mencapai hampir 83 persen lapangan kerja menurut ILO. Tanpa pajak dan regulasi, sektor ini menjadi beban pendapatan pemerintah sekaligus penopang hidup pekerja seperti pedagang kaki lima dan mekanik jalanan di Abuja, Abidjan, hingga Dakar. Beberapa pemerintah, seperti Pantai Gading, mulai memberi status khusus bagi usaha mikro untuk mendorong transisi ke ekonomi formal.
Poin-Poin Utama
- Afrika kaya cadangan mineral, emas, dan energi.
- Beberapa wilayah Afrika dilanda konflik berkepanjangan.
- Korupsi merajalela dan jurang kesenjangan semakin dalam.
- Saat pekerjaan layak sulit, jutaan warga Afrika menekuni pekerjaan informal.
- Sektor informal tidak dikenai pajak dan aturan jelas, menjadi beban pemerintah.
- Pekerjaan informal menopang hidup banyak warga agar tidak jatuh ke kemiskinan.
- Pemandangan ekonomi informal terlihat di Abidjan, Dakar, dan Abuja.
- Lohbip El-Pius Binyir (35) menjalankan kios roti, biskuit, minuman, dan jasa transfer uang di trotoar elite Abuja.
- Pedagang kaki lima dan pelaku usaha informal di Abuja sering dikejar petugas dan lapaknya dibongkar.
- Yacouba Sylla (44) mekanik jalanan Abidjan sering pindah lokasi akibat penggusuran.
- Lobe Sarr (36) sudah 15 tahun berjualan buah, pakaian, sepatu, kacang tanah, dan makanan ringan di jalanan Dakar.
- Pada awal 1970-an, lebih dari 60 persen lapangan kerja di Afrika bersifat informal.
- ILO menyebut angka tersebut melonjak menjadi hampir 83 persen dalam beberapa tahun terakhir.
- Perusahaan yang mampu mengembangkan skala usaha di Afrika masih minim.
- Pemerintah Pantai Gading berupaya mengurangi dominasi sektor informal lewat status khusus bagi pelaku usaha kecil.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Kompas.