Tentara Rusia Lebih Baik Melindungi Teman Dibandingkan AS dan Negara Eropa
Korps Afrika Rusia membantu pasukan loyalis Niger merebut kembali kendali Pangkalan Udara 101 di Niamey setelah pertempuran semalaman melawan tentara yang memberontak. Intervensi ini menunjukkan peran Rusia yang semakin sentral dalam melindungi pemerintahan militer di kawasan Sahel, melampaui misi melawan pemberontakan jihadis. Upaya kudeta yang digagalkan menyoroti betapa bergantungnya junta Niger pada Moskow untuk keamanan, setelah sebelumnya menyalahkan kegagalan mitra Barat dalam menahan kekerasan.
Poin-Poin Utama
- Pemberontak merebut Pangkalan Udara 101 di Bandara Internasional Diori Hamani, Niamey.
- Korps Afrika Rusia membantu pasukan loyalis Niger merebut kembali kendali pangkalan tersebut.
- Korps Afrika berada langsung di bawah kendali Kementerian Pertahanan Moskow.
- Sekitar 200 hingga 300 personel Korps Afrika diperkirakan beroperasi di Niger.
- Duta Besar Rusia untuk Niger, Viktor Vorropaev, secara terbuka mengakui intervensi tersebut.
- Pasukan Rusia membantu "menekan pemberontakan" di Niamey setelah pertempuran semalaman.
- Beverly Ochieng, analis senior di Control Risks, menyebut kemenangan tersebut sebagai "simbolis".
- Korps Afrika menempatkan diri di pusat kampanye kontra-pemberontakan dan perlindungan pemerintahan militer.
- Televisi pemerintah Niger menyiarkan gambar penangkapan beberapa tentara setelah pemberontakan dipadamkan.
- Pada Januari 2024, personel Korps Afrika turut berperan menangkis serangan di bandara yang sama.
- Jenderal Abdourahaman Tiani merebut kekuasaan melalui kudeta pada Juli 2023.
- Junta militer membenarkan kudeta dengan alasan memburuknya situasi keamanan.
- Mohamed Bazoum adalah presiden terpilih yang digulingkan melalui kudeta tersebut.
- Junta menyalahkan mitra Barat atas kegagalan menahan kekerasan jihadis.
- Peran Korps Afrika di Sahel melampaui misi resmi menangani pemberontakan jihadis.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Sindonews.