Trump Prediksi Perang Iran Berakhir Usai Pemilu, Harga Bensin Jadi Taruhan
Presiden AS Donald Trump memprediksi perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026, dengan menuding Teheran sengaja mempertahankan konflik tersebut untuk memengaruhi pemilu dan merugikan Partai Republik. Trump mengakui harga bensin kemungkinan baru akan turun setelah pemilu, di tengah harga rata-rata bensin reguler nasional yang mencapai sekitar 4,22 dolar AS per galon dan harga minyak Brent menembus 101,21 dolar AS per barel akibat eskalasi terbaru serangan di Selat Hormuz. Lonjakan biaya energi menambah tekanan terhadap rumah tangga dan sektor transportasi AS menjelang pemungutan suara.
Poin-Poin Utama
- Trump memprediksi perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.
- Konflik AS-Iran telah memasuki bulan ketujuh per September 2026.
- Harga minyak Brent menembus 100 dolar AS per barel, ditutup sekitar 101,21 dolar AS, level tertinggi sejak Mei 2026.
- Harga rata-rata bensin reguler nasional AS sekitar 4,22 dolar AS per galon pada 9 September 2026.
- Harga bensin reguler naik dari sekitar 4,14 dolar AS per galon menjelang akhir pekan Hari Buruh awal September 2026.
- Harga diesel mendekati 6 dolar AS per galon, menyentuh rekor sekitar 5,94 dolar AS.
- Iran menyatakan menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz.
- AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
- Trump menuding Teheran mempertahankan perang untuk memengaruhi pemilu AS.
- Trump menyatakan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
- Trump mengakui harga bensin kemungkinan memerlukan waktu lebih lama dari pemilu paruh waktu untuk turun.
- Menteri Keuangan Scott Bessent pernah memproyeksikan harga bensin kembali mendekati 3 dolar AS per galon sekitar Hari Buruh.
- Proyeksi harga bensin 3 dolar AS per galon tersebut tidak terwujud karena konflik berlanjut.
- Lonjakan biaya energi memberi tekanan terhadap rumah tangga, transportasi, logistik, dan bisnis AS.
- Reuters menyebut gelombang serangan terbaru sebagai eskalasi terbesar terhadap pelayaran sejak konflik dimulai.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh Republika.