Jawaban Badan Geologi soal Potensi Tsunami Erupsi Berulang Anak Krakatau
Badan Geologi menyatakan tidak semua erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami; tsunami Selat Sunda 2018 mainly disebabkan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi. Pemantauan terkini menunjukkan bentuk dasar dan kawah utama gunung relatif tidak mengalami perubahan signifikan dibanding pemetaan sebelumnya, dengan tubuh gunung yang terbentuk kembali pasca-2018 masih terlalu kecil untuk berpotensi runtuh memicu tsunami. Meski demikian, Badan Geologi tetap memantau secara intensif perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.
Poin-Poin Utama
- Lana Saria, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, mengatakan tidak semua erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami.
- Tsunami Selat Sunda terjadi pada 22 Desember 2018.
- Tsunami 2018 terutama disebabkan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dengan volume besar.
- Keruntuhan tersebut bukan semata-mata akibat kolom erupsi.
- Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu runtuh pada 2018.
- Gunung mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi akibat aktivitas erupsi berikutnya.
- Bentuk dasar Gunung Anak Krakatau relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.
- Gunung Anak Krakatau tidak mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
- Pemetaan morfologi terbaru menunjukkan bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama relatif tidak berubah.
- Pertumbuhan tubuh gunung pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil.
- Pertumbuhan tersebut tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar.
- Badan Geologi ESDM terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas gunung.
- Perubahan morfologi gunung tetap menjadi perhatian pemantauan.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh DetikNews.