Gubernur Kalteng Tuai Kritik Gara-gara Viral 'Bercerai Kawin Lagi'
Gubernur Kalimantan Tengah Agustian Sabran menerima kritik tajam setelah bercanda soal kebakaran hutan dan lahan dengan ungkapan "bercerai kita kawin lagi" dalam video viral. Anggota DPR dari Komisi IV Daniel Johan dan Komisi II Ahmad Irawan menilai pernyataan tersebut tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang tengah menderita akibat kabut asap, dan berharap polemik ini menjadi pembelajaran bagi kepala daerah lain dalam berkomunikasi dengan publik. Kondisi kabut asap di Kotawaringin Barat, Kalteng, semakin pekat dengan kualitas udara berada pada kategori sangat berbahaya berdasarkan data BMKG.
Poin-Poin Utama
- Gubernur Kalimantan Tengah Agustian Sabran mendapat kritik keras setelah gurauannya soal karhutla viral di media sosial.
- Video gurauan tersebut beredar pada 13 Oktober.
- Agustian Sabran menyebutkan hampir 97 persen karhutla disebabkan oleh ulah manusia.
- Gurauan kontroversial yang diucapkan adalah "Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi".
- Anggota Komisi IV DPR Daerah Pemilihan Kalimantan Barat Daniel Johan menyoroti kurangnya empati pemimpin di tengah bencana.
- Daniel Johan menilai candaan tersebut tidak elok disampaikan saat masyarakat sedang menderita akibat kabut asap.
- Anggota Komisi II DPR fraksi Golkar Ahmad Irawan mengingatkan pejabat publik wajib memiliki empati terhadap korban karhutla.
- Ahmad Irawan berharap kepala daerah membangun optimisme masyarakat dengan meyakinkan kebakaran dapat ditangani hingga padam.
- Ahmad Irawan menilai polemik candaan Gubernur Kalteng harus menjadi pembelajaran bagi kepala daerah lainnya.
- Kabut asap karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng, semakin pekat hingga langit tampak menguning.
- Warga Kotawaringin Barat mengalami gangguan pernapasan dan iritasi mata akibat kabut asap.
- Pemantauan BMKG Kotawaringin Barat menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 berada dalam kategori sangat berbahaya.
- Petugas BMKG Kotawaringin Barat Afif Rowina Khairim membenarkan kualitas udara sangat berbahaya berdasarkan data pemantauan PM2.5.
Hak cipta dan publikasi utuh dimiliki oleh CNN.